<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298</id><updated>2011-04-21T15:05:07.674-07:00</updated><title type='text'>Emanuelgoo_NEWS</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-5811888653371644211</id><published>2007-12-30T17:39:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T17:41:21.921-08:00</updated><title type='text'>Makna Dibalik Natal Budaya Papua</title><content type='html'>Nato Gobay Pr, “Jadikan Natal Budaya Papua Sarana Evaluasi Diri Dalam Membenahi Keluarga sebagai Pondasi Kerajaan Allah “   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NABIRE –  Sejak 4 tahun lalu    setiap kali  Perayaan  Paskah dan Natal   bagi umat Paroki  Kristus Raja  Malompo  Nabire Keuskupan Timika   mrerayakan  natal dan paska  ala budaya Papua .  Dalam  liturgi perayaaan Mula awal   hingga  akhir  ibadah  dilakukan  dalam nuansa budaya  Papua. Perayaan  Natal   pada tanggal  27  desember kemarin, umat paroki  Kristus Raja   merayakannya  dalam kekhasan Papua  ,sebagian besar  umat yang hadir  mengikuti perayaan nnatal Papua   mengenakan  busana  tradisional masing- masing , baik etnis Moni, Lani, Nduga, Damal , Kamoro,  Mee dengan  diringi lagu- lagu tradisonal  dari setiap etnis .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Natal Budaya Papua   yang dihadiri ribuan umat itu dirauyakan cukup meriah    sebab   serasa yesus benar- benar hadir ditengah –tengah keragaman budaya orang  Papua, hal itu nampak   mulai dari hingga akhir  liturgy ibadah  dilakukan dalam  bahasa , entah doa , maupun lagu  dinyanyikan dalam  berbagai bahasa daerah Papua . Hal itu terasa  Yesus yang lahir  pada  2000 tahun silam itu   hadir dan lahir kembali  ditengah-tengah orang Papua , maka  sebagian  umat tahan mengucurkan air mata .  Perayaan  natal budaya Papua di pimpin Pastor Natho Gobay,Pr  dengan Tema sentral    Hidup damai,bijaksana, adil dan beribadah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ibadah seperti ini mesti  dilakukan semua gereja  dsan dilakukan   sesuai budaya  umat  sehingga natal atau perayaan  apapun  benar- benar  terserap di dalam umat   dan hadirkan yesus  lewat budaya setempat  . Tata ibadah mesti dikemas  menurut  lokalitas budaya  Masyarakat  yang nantinya akan  menjadi bahan inspirasi, permenungan  yang mendalam bagi umat  sehingga Yesus   benar-benar menyatu dalam umat. Tak semestinya   tidak harus mengikuti  tata liturgi baku yang ada, dan itu kadang monoton yang acapkali  menjenuhkan  umat  “ kata  Paskalis Tebay   karena merasa terharu   kemarin ( 27/12) disaat menghadiri  ibadah natal Budaya  Papua .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dalam    homili Pater  Natoo Gobay, Pr  yang menggunakan    bahasa  Mee salah satu etnis di Pedalaman Papua   menandaskan  untuk  membangun, mempertahankan jati diri   budaya dan manusia papua dari perubahan  zaman  dewasa ini yang sedang menguncang sendi-sendi kehidupan manusia ,  mulai  kembali kepada basis . Mulai  perbaiki  dari keluarga sebagai basis, dasar  pijakan  untuk mencapai  tujuan hidup yang hakiki . Bila  kita merusaka keluarga kita sendiri,keluarga orang lain lewat berbagai pelanggaran  maka apapun  dambaan  kita akan gagal maka kembali berbenah  keluarga sebagai basis untuk menggapai berbagai dambaan . Kita  berjuang  dan bertahan hidup  dengan memuji dan memuliakan Allah saat ini , tapi  sepulang gereja  kita ikut terjerumus dalam berbagai  judi, togel , dan lainnya . Apakah itu budaya orang Papua . Terus kita melakukan pelanggaran-pelanggaran , maka kita cuci diri,evaluasi diri  sebab Tuhan siap membantu kita  memperbaiki hidup kita . Sabda telah menjadi manusia  dan sekarang ini ada ditengah –tengah . Sabda  sudah menjadi manusia dan hadir  bersama  kita saat ini . Begitu cinta  kepada kita Yesus dikirim oleh Allah Bapa . Sekarang ada ditengah-tengah kita  lewat sabda . Dia lahir  di dalam diri kita .Putra Allah hidup bersama kita . Hari ini   kita mengenakan busana kebesaran dari suku kita masing –masing  sebagai kebesaran budaya  kita , tetapi itu budaya jasmaniah. Hanya alat  saja  sebagai perhiasan  jasmaniah . Perhiasan ini kapan saja dapat hilang , tergeser  . Busana kita tidak penting tetapi lebih penting adalah  bagaimana mengubah pikiran  kita sesuai  kehendak Yesus. Bagaimana   membangun pikiran dalam  keluarga . Kalau demikian kita akan bangun Papua .  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila  tidak dimulai dari sekarang  orang Papua akan kehilangan jati diri, harta benda  dan segala sumber daya alam di buana Papua . Orang Papua telah terkotak-kotakan .Papua kini telah hadir banyak kabupaten   tapi tidak  ada tempat pekerjaan, . Pemekaran  adalah tempat titik penghabisan  budaya , orang juga sumberdaya alam Papua . Pemekarab  membuka lapangan kerja  bagi orang lain bukan orang . malahan dengan pemekaran   membangun jeratan sendiri untuk  masuk dalam kehancuran manusia, buadaya dan sumber daya alam Papua . Pada segi lain  perkembangan  dunia berjalan terus  lalu  mau mundur. Mau tak mau . suka tidak suka  kita harus  menjadi  tuan  di negeri sendiri  bukan termarginalkan seperti yang dewasa ini  terjadi . Budaya  manusia Papua mau maju , manusia Papua sendirilah yang harus maju menjadi tuan di negeri sendiri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keluarga  bukan  lanjut Natho  saling menghancurkan lewat fitnahan, perselingkuhan dan lainnya  melainkan  mesti membangun   bersama  sebab salung mengfitnah, selingkuhan bukan budaya orang Papua . Untuk iti kita harus mandi diri secara moralitas, berserah diri, koreksi diri, evaluasi diri  dem,I membangun  kelaurga  yang kokoh sebagai dasar  membangun budaya ,dan jati diri orang Papua . Natal ala Budaya Orang Papua  ini mesti dipetik makna dasar untuk evaluasi diri agar  lebih kuat lagi  dalam membenahi  keluarga  sebagai dasar  rumah kerajaan Allah . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah empat tahun  kita lakukan  pesta natal  dan paskah budaya orang Papua  tetapi manusia  belum berubah dalam berpikir, bertutur kata, dan bertindak maka  saatnya  berubah diri, evaluasi diri baik mahasiswa ,   sarjana , penganggur ,tua muda ,ayah ,ibu    . Untuk mahasiswa   yang dimana saja sedang belajar, tingkatkan mutu moralitas diri, bukan ijzah sarjana yang dibutuhkan    melainkan  mutu  dan moralitas diri  juga bukan   satu-satunya   untuk menjadi PNS  tetapi  orang  dapat hidup  dengan  swadaya , dapat hidu p mandiri melalui  jerih payah kerja keras. Itulah budaya orang Papua yang sedang dilupakan .  Orang papua  memiliki etos kerja keras yang dapat menghidupi diri maupun keluarga  . Tuhan  menempatkan  orang Papua  di buana ini  dengan maksud dan tujuan yang mulia . Walaupun  sellama  ini manusia papua  dibunuh secara misterius dimana-mana  tetapi  roh  dan semangat mereka  tetap hidup. Sebagai manusia Papua  sesuai kehendak Allah . Untuk memegang  budaya Papua ,generasi  muda harus tingkatkan  mutu moralitas ,agar dapat  membangun  ekonomi, pendidikan , pendidikan , melawan ancaman penyakit HIV/AIDS yang kian melambung hingga jinni di nabire mencapai 511 ODHA .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Emanuel goo (nabire )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-5811888653371644211?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/5811888653371644211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=5811888653371644211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/5811888653371644211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/5811888653371644211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/makna-dibalik-natal-budaya-papua.html' title='Makna Dibalik Natal Budaya Papua'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-3859851818357336631</id><published>2007-12-30T17:25:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T17:26:16.530-08:00</updated><title type='text'>Dana Bangkam Belum Turun,Kadistrik Wanggar Dicatut</title><content type='html'>NABIRE -  Penyaluran  Dana Bangkam  tahap perdana   sebagian besar diistrik   telah disalurkan  hingga ke kampung-kampung , namun hingga kini  9 kampung yang berada  di distrik Wanggar hingga  berita ini diturunkan  belum  ada penyaluran dana bangkam  sebesar  105 juta perkampung  , maka   terjadi saling tuding menuding antara masyarakat dengan TPPK  tingkat Kampung ,masyarakat dengan TPPK tingkat  distrik ,antara masyarakat dengan  Kepala Kampung . selama ini masyakarat bertanya-tanya kapan akan di turunkan sebab tutup tahun anggaran  kian dekat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  S. Mananian   salah satu tim TPPK kampung Karadiri I Distrik Wanggar mengaku masayarakat selalu datang menanyakan  tapi kami tidak dapat berbuat banyak sebab dana  bangkam saja belum ada .malahan masyarakat menuding  kepala distrik dan  Kepala Kampung serta TPPK tingkat distrik kerjasama untuk mengamankan dibank dan mencari bunga dibank . Dan memang  kami masyatakat pada  kampung-kampung dis distrik( wanggar)  ini menantikan penyaluran dana tersebut sebab dana itu milik masyarakat juga distrik  lain telah disalurkan dana tersebut . Hanya distrik  wanggar yang  belum dapat  dana bangkam .”  Kampung-kampung yang ada di distrik lain itu  saat ini mereka memasuki pada tahap pelaksanaan program dan pembuatan pelaporan realisasi dana . Sedangkan kami disini ,perencanaan  program saja  belum   apalagi pelaksanaan sebab dana belum cair sampai hari ini “ urai sergius ( 15/12) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Seppy Pakage  Salah seorang Warga kampung SP-B distrik wanggar  mengatakan  semua keterlambatan  penyaluran dana bangkam   ini akibat ketidakmampuan  kepemimpinan kepala distrik dalam mengarahkan masyarakat untuk mengurus  dana ini . Tidak ada pengarahan yang jelas. Bahkan kami mengcurigai  Kepala  dan TPPK  memperhambat . Untuk kami masyarakat berharap agar segera dicairkan, Sebab sudah lama  masyarakat mennantikan. Kalau mmemang tidak mampu memimpin dan  mengarahkan  masyarakat lebih undurkan diri saja. Aneh kalau  distrik yang ada di kota  ada kemudahan dalam akses ini  sangat lamban menerima  dana ini . Bisa saja  tahun depan baru kami terima , sementara tutup buku  tahun ini  sudah dekat  “ kata Sepy  kepada media ini kemarin ( 17/12)  di SP-B. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Kampung Kabupaten Nabire  Drs. Fredy Amahorseya ketika  ditemui kemarin (17/12) diruang kerjanya   mengatakan untuk penyaluran dana Bangkam  sampai saat ini  tidak  ada masalah . Dan penyaluran saja langsung  dari  bank ke kampung-kampung bukan lewat Kantor agar tidak birokratis . Kalau saja  ada  distrik yang belum menerima maka  itu tergantung dari kordinasi  dari distrik, TPPK tingkat distrik dan TPPK tingkat Kampung . “ Hingga saat ini belum ada masalah  untuk  dana bangkam sebab  penyaluran saja langsung  dari bank ke masyarakat lewat TPPK. Untuk  koordinasi antara TPPK distrik,dan Kampung mesti dilakukan agar  dalam perealisasian dapat berjalan baik  “ urai mantan Kepala Kesbang ini .emanuel goo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga  Dogiyai Terancam Natalan Di Kampung&lt;br /&gt; Hari raya natal kini tinggal hitung jari, warga pedalaman dogiyai, maupun   yang selama  ini berdomisili di Jayapura, Nabire, juga Jawa telah berdatangan  dengan harapan akan merayakan natal bersama keluarga . Namun harapa ini terancam pupus akibat sulitnya mendapat  sarana transportasi sebab  kemdaraan yang ada saja  lebih banyak  dicarter  secara perseorangan juga  para sopir  mengejar  penumpang yang ongkos taksinya lebih tinggi seperti penumpang enaroali, wagethe, sedangkan warga  dogiyai yang lebih dekat tidak diangkut sehingga warga dogiyai  terancam natalan di kampung . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nabire - Animo masayarakat untuk merayakan   natal bersama     keluarga cukup tinggi . Terbukti warga pedalaman yang sudah lama menetap dikota  untuk pulang  kekampung cukup banyak dan selama beberapa  hari belakangan  ini mereka mengalami  kesulitan mendapat kendaraan  darat terutama. Banyak warga yang hendak pulang ke kampung tapoi tidak kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mariana  Goo ,  calon penumpang  yang mengaku  dirinya datang dari jayapura  hendak naik ke opedalaman  untuk merayakan  natal bersama keluarganya namun ia harus  menunggu mobil hingga  satu miinggu ini .  Maria  bukan hanya dia  sendiri tetapi  2  orang adik dan seorang anak. “ kami sudah minggu cari-cari mobil tapi semua mobil itu sebagian besar dicarter   bahkan ada yang sudah penuh . hanya  cari tumpangan mobil saja setengah mati  sampai kami bermalam seminggu  di nabire. Walaupun ada mobil tetapi  para sopir mengejar uang lebih  besar mereka  lebih bvanyak mengambil penumpang tujuan ke enarotali sedangkan kami dari moanemani  terlantar sebab ongkos taksi  ke moanemani jauh lebih rendah daripada  ke enarotali maka para sopir ini lebih mengejar nilai uang yang lebih besar. Maka   jangan heran kalau saya dan anak-anak sudah satu minggu disini hanya  tunggu taksi ke pedalaman  ”   keluh maria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena sulitnya mendapatkan tumpangan terpaksa sebagian besar  warga pedalaman  harus menumpang kendaaraan  truk  dengan ongkos  yamg bervariasi antara 150.000- 300.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kami susah dapat mobil ke wadouw ( pedalaman) jadi terpaksa kami ikut truk . Kami bayar ongkos per kepala 100. dan  itu tidak nanti kapan baru kami akan  tiba I kampung sebab sebagian titik disepanjang  jalan  banyak yang rusak ,baik jalan maupun jembatan” kata Yules salah satu penumpang yang menumpang sebuah truk .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Melkias Tebay  seorang  tokoh masyarakat  menandaskan  bahwa yang jelas warga Kamuu, Mapia, akan ikut natalan disini, sebab  semua kendaraan dipakai( carter)  dengan  tariff yang begitu tinggi. Kami berusaha cari mobil untuk carter demngan biaya 3 juta tapi  para sopir  mematok harga 4 juta sampai 5 juta . sementara  kendaraan yang memuat penumpang biasa , para lebih mencari penumpang  yang ongkos taksi lebih tinggi seperti penumpang yang tujuan ke Enarotali atau Wagethe. Sedangkan calon penumpang ke MOANEMANI, mapia, dan lainnya   tidak mau diangkut .mengingat itu  pemerintah  mesti bangun terminal transit di Moanemani agar  semua penumpang diangkut . Sampai pada trerminal transit barulah memuat penumpang ke enarotali atau wagethe .&lt;br /&gt;“ banyak  warga kamuu dan Mapia yang hingga hari belum berangkat ke kampung  bahkan terancam mereka natalan di kampung  bersama keluarga. Hal ini disebabkan banyak Estrada yang dicarter dengan tarif yang begitu tinggi, 4 juta sampai 5 juta . Angkut penumpang biasapun para sopir mencari penumpang yang  ongkos tiketnya lebih tinggi seperti tujuan ke enarotali atau  wagetehe . Maka warga distrik Kamuu, Mapia dan Siriwo  terlupakan dari angkutan .Melihat realitas itu harap  Tebay  ke depan segera dibangun  terminal transit di moanemani atau mapia  agar semua masyarakat terlayani .&lt;br /&gt;Kalau tidak dibangun  masyarakat  yang berada disepanjang  jalan akan disisihkan terus seperti yang sekarang ini terjadi maka  mesti dibangun terminal transit bagi masyarakat “ urai Melkias Tebay yang juga anggota DPRD Nabire  kemarin ( 17/12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini saja kebanyakan masyarakat Kamuu, Mapia, sepanjang jalan distrik Sirieo akan mengikuti natalan di nabire  akibat sulitnya mendapat mobil . Banyak anak-anak mahasiswa yang masih berkeliaran disini padahal mereka datang kesini untuk natalan  ke pedalaman bersama keluarga  tapi karena tidak ada kendaraan yang mengangkutnya maka mereka  masih ada disini . Karena sulitnya dapat mobil sebagian  warga  terpaksa ikut menumpang  truk yang disinyalir bermalam beberapa hari ditengah jalan akibat jalan . “Mengingat sebagian besar  warga dogiyai  terpaksa akan ikut di nabire , dan   agar tidak  terulang hal seperti itu maka mesti dibangun terminal transit di Moanemani atau di Bomomani demi kelancaran pengangkutan penumpang dan barang “ tegas tebay . emanuel goo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-3859851818357336631?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/3859851818357336631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=3859851818357336631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/3859851818357336631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/3859851818357336631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/dana-bangkam-belum-turunkadistrik.html' title='Dana Bangkam Belum Turun,Kadistrik Wanggar Dicatut'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-4851697208901909484</id><published>2007-12-30T17:18:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T17:19:39.372-08:00</updated><title type='text'>Anak SD Yanarif Belajar Dibawa Daun Bobo</title><content type='html'>NABIRE-Sungguh aneh tetapi nyata. SD Negeri Yanarif yang berada di poros jalan Waroki-SP II Kali Semen beratpkan daun bobo dengan dinding kayu bulat. Dinding tak sekat rapi sehingga masih terlihar cela yang lebar. Tapi disitulah 4 kelas SD tersebut berlangsung kegiatan belajar mengajar.&lt;br /&gt;Kunjungan dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Nabire, Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua, Lembaga Swadata Masyarakat (LSM) dan Badan Pengawas Daerah (Bawasda) Kabupaten Nabire belum juga membawa perubahan. Anak-anak masih sekolah dan bermain di pinggir gubuk yang beratapkan daun bobo.&lt;br /&gt;Kepala SD Negeri Yanarif Waroki, Nabire, PH Nuburi saat ditemui media ini, Selasa (11/12) mengatakan sekalipun sekolah ini dibuka sejak 30 Maret 2007 lalu, hingga kini belum ada tanda-tanda yang pasti soal pembangunan gedung sekolah. Selama ini, lima guru termasuk kepala sekolah mendidik dan mengajar 126 murid usia sekolah dasar di bawah atap bobo dengan ditutupi beberapa potongan kulit kayu dan daun sagu sebagai dinding dan sekat.&lt;br /&gt;Menurut Nuburi, sekolah ini dibuka untuk menampung anak-anak usia sekolah di sepanjang jalan Waroki-SP 2 Kali Semen yang tinggal jauh dari lingkungan sekolah. Selama ini, anak-anak yang tinggal di daerah interleand antara Waroki dan SP II tak terjamah dengan pendidikan akibat letak sekolah yang jauh dari lokasi tempat tinggal. Sebagian orang tua dari anak-anak sekolah mendulang di Topo sehingga perhatian untuk pendidikan pun terlantar.&lt;br /&gt;Menurut pengamatan media ini di tempat, barak sekolah tersebut terkesan sebagai tempat belajar bagi murid SD ketika ada aktifitas belajar mengajar di sekolah. Jika tidak, terkesan sebuah bevak, hanya bedanya halaman bersih karena dibersihkan oleh anak-anak sekolah.&lt;br /&gt;Tak ada tanda-tanda sebagai tempat belajar karena, dinding depan hanya ditutup dengan beberapa papan dari ampas gergajian, tanpa pintu, apalagi jendela. Dinding belakang dan samping tak ada, kecuali satu sekat yang memisahkan kelas sementara papan tulis dipajang di dinding.&lt;br /&gt;Memang agak ironi, sekolah negeri yang berada di pinggiran kota Nabire, kota yang tengah diperjuangkan menjadi Kota Madya Nabire ini, anak-anak masih belajar dibawah atap bobo berdindingkan papan ampas dan dau kelapa. Sementara anak-anak sekolah yang lain, sekolah di dalam ruang yang bagus di dalam gedung permanent.&lt;br /&gt;Nuburi mengaku sedang bingung. Sebab, janji dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten untuk akan dibangunnya dua ruang kelas dalam tahun anggaran ini belum juga terwujud. Bahkan, belum ada tanggapan secara lisanpun. Hanya, saat ada kunjungan bersama Dinas P dan P dari Provinsi Papua, pejabat dari Dinas P dan P Kabupaten Nabire yang mendampinginya meminta dukungan dari provinsi untuk pembangunan ruang kelas di SD ini.&lt;br /&gt;Selain itu, kata Nuburi, LSM dan Bawasda juga pernah berkunjung ke SD Yanarif namun belum ada perubahan. Bahkan saat Bawasda turun ke SD, Bawasda membawa seorang kameramen merangkap wartawan TVRI dan melakukan tanya jawab namun tak ada kabar.&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa pengalaman ini, kini Nuburi mulai curigai, jangan-jangan semua kunjungan ini hanya sekedar datang ambil gambar untuk menjual proposal kepada donator dan pemerintah atas untuk kepentingan yang lain, bukan lagi untuk SD Yanarif yang sial ini. (ans)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada foto: SD Yanarif 2. (Kepala SD Negeri Yanarif bersama sebagian muridnya di depan gubuk sekolah di jalan Waroki-SP II; foto: ans)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi D Akan Pantau Pemanfaatan Dana DAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NABIRE-Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nabire akan memantau penyaluran dan pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2007 yang diterima 30 sekolah di Kabupaten Nabire. Oleh sebab itu, pengelola diharapkan untuk memanfaatkan dana sebaik-bainya sesuai peruntukan yang diamanatkan.&lt;br /&gt;Anggota Komisi D DPRD Nabire, Yeki Pigay, S.Sos kepada media ini beberapa hari lalu mengatakan Komisi D tetap akan memantau setiap pemanfaatan dana DAK yang diberikan kepada setiap sekolah.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mantan Ketua Komisi C DPRD Nabire ini meminta kepada para kepala sekolah yang menerima dana DAK tahun anggaran 2007 agar dikelola dengan benar sesuai dengan petunjuk teknis yang telah digariskan oleh pemerintah.&lt;br /&gt;Para kepala sekolah diminta untuk memanfaatkan dana tersebut demi pengembangan sekolahnya. Sebab, tujuan pemerintah pusat menyediakan dana DAK sektor pendidikan demi perbaikan gedung sekolah, perpustakaan dan prasarana penunjang lainnya.&lt;br /&gt;Dia menambahkan, selain dana DAK yang diterima beberapa hari lalu, Komisi D juga akan mengawasi seluruh dana pendidikan yang akan diserahkan ke setiap sekolah. Oleh sebab itu, Yeki Pigay berharap agar para kepala sekolah hendaknya mengelola sesuai dengan petunjuk pemanfaatan dana. Karena dana yang diberikan pemerintah kepada setiap sekolah demi peningkatan kualitas anak-anak usia dan perbaikan mutu pendidikan di daerah ini. (ans)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada foto, SD Yanarif (gedung, ruang kelas dan sarana-prasarana lain yang tak memadai di SD Negeri Yanarif Waroki. Anak-anak belajar dibawah atap bobo, foto: ans)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemekaran Dogiyai Sebagai Sebuah Anugerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NABIRE-Pemekaran Kabupaten Dogiyai yang disetujui Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) awal Desember 2007 merupakan sebuah anugerah dari Tuhan kepada masyarakat di Kabupaten Nabire dan khususnya masyarakat di wilayah Dogiyai. Oleh karena itu, patut kita syukuri pemekaran tersebut yang dianugerahkan Tuhan kepada masyarakat di daerah ini melalui anggota DPR RI.&lt;br /&gt;Seorang tokoh agama di Kabupaten Nabire, Alex Kameroke melalui telepon selularnya, Selasa (11/12) pagi mengajak masyarakat di daerah ini menyambut anugerah yang diberikan Tuhan kepada masyarakat Nabire khususnya warga yang berasal dari wilayah Dogiyai dengan suka cita. Karena, Tuhan telah menjawab harapan dan dambaan masyarakat selama ini, memiliki wilayah pemerintahan sendiri agar pembangunan betul-betul dirasakan di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;Kameroke menambahkan, anugerah yang diberikan Tuhan berupa pemekaran kabupaten pada penghujung tahun dan awal hari raya Natal, hendaknya kita bersyukur kepada Tuhan. Karena, lewat karya-karyaNya melalui anggota DPR RI, kita telah meraih sebuah kemenangan, dibentuknya sebuah kabupaten baru.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, kata Kameroke mengatakan masyarakat pesisir pantai di Kabupaten Nabire mendukung sepenuhnya atas pemekaran sebuah kabupaten baru di wilayah pedalaman. Karena, lewat pembentukan kabupaten baru akan mendorong percepatan pembangunan seperti halnya yang terjadi di kota Nabire.&lt;br /&gt;Kameroke menilai pemekaran Kabupaten Dogiyai yang kita raih sekarang melalui perjuangan yang panjang dengan menelan dana dan waktu yang tak sedikit. Oleh karena itu, pemekaran yang dihadiahkan oleh pemerintah pusat melalui DPR RI hendaknya kita syukuri bersama sebagai sebuah anugerah dari Tuhan yang patut kita syukuri, berkat yang harus kita hormati dan sebuah pemberian yang kita terima dengan iklas. Karena, sekalipun pemekaran Dogiyai terwujud melalui sebuah perjuangan keras yang dipimpin Bupati AP Youw, namun tak mungkin terwujud jika tak dianugerahkan oleh Sang Pencipta sebagai sebuah berkat kepada masyarakat di daerah ini khususnya masyarakat di wilayah Kabupaten Dogiyai. (ans)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-4851697208901909484?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/4851697208901909484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=4851697208901909484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/4851697208901909484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/4851697208901909484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/anak-sd-yanarif-belajar-dibawa-daun.html' title='Anak SD Yanarif Belajar Dibawa Daun Bobo'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-3925866884548529912</id><published>2007-12-30T17:13:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T17:16:45.156-08:00</updated><title type='text'>ASRAMA KAMUU  YANG TAK BERDAYA</title><content type='html'>Kondisi Asrama Serviam Kamuun yang  terletak dibilangan  Perumnas I waena  yang dibangun secara swadaya  Oleh  pelajar Mahasiswa Lembah  Kamuu  bersama mansyarakat Distrik Kamuu Kabupaten Nabire ini    cukup memprihatinkan . Selain kondisi bangunan  yang dibangun dengan papan sisa soumill yang dipungut di  bengkel  kayu akibat pembangunan  asrama yang mandeg sebab dana  sekitar 100 juta  yang dibantu oleh masyarakat  Kamuu  digelapkan . Maka terpaksa para penghuni  yang rata-rarta pelajar  mahasiswa   menutup didinding dengan papan sisa  soumell  . Juga  gara-gara belum terselesaaikan  pembangunan asrama   sebagian besar penghuni  tidur di teras  beralaskan  terval , sementara  kamar yang ada dibongkar  untuk direhap namun mandeg sehingga terpaksa  mereka pergi memungut kulit kayu Soumell  di bengkel lalu menutup didinding yang cukup sekedaruntuk membaringkan diri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asrama Serviam Kamuu yang terletak dibilangan Perummnans I waena ini  dibangun sejak tahun 1998  seccara swadaya oleh Masyarakat Distrik Kamuu Kabupaten dalam bentuk sebuah aula . Karena animo anak-anak  belajar di Jayapura tinggi  Lalu penghuni kiann  melonjak sehingga tak alagi mampu menampung . Maka atas kesepaokatan orantua,masyarakat hendak membangun asrama berlantai dua, dari kesepatan itu, masyarakat selaku orangtua mengirim dana sebesar 47 juta ditambah dengan sumbangan dari guru-guru  23 juta, juga bantuan dari walikota Jayapura  20  juta, belum lagi sumbangan dari dari kabupaten . Dengan sumbangan dapat diseloesaikan . Namun hingga  kini belum selesai sehingga penghuni menuding panitia pembangunan  telah menggelapkan bahkan mereka mendesak segera rampungkan pembangunan gedung asrama  sebab  dibangun sejak 2005 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Asrama ServiaM Kamuu   Henok Auwe yang ditemui media ini ( 3/11)   mengakui Karena belum ada penyelesaian  pembangunan asrama  dan penghuni setiap tahun  meningkat , yang tidak dapat menumpang lagi maka  terpakswa  dipeleh dengan papan –papan sissa soumel .  Sebenarnya  sudah  dapat dibangun sejak lama namun  karena dana-dana yang  sudah diterima digelapkan oleh panitia . Karena belum selesai terpaksa  alas dengan  terpal diteras . Banyak cara kami dekati  lewat sejumlah kegiatan yang digelar oleh penghuni asrama tetapi itupun tidak dapat digubris . Hingga hari ini  panitia pembangunan tidak lagi pernah datang diasranma , walapun kami undang lewat berbagai kegiartan, baik acara perpisahan, perkenalan, ataupun acara seminar dan lainnya , tetapi selama itu pula tidak pernah datang  kiunjungi kami . Sebanyak 47 juta  ditambah bantuan  dana lainnya irtu ditangani  dari Panitia  pembangunan. Selama ini pula orangtua kami  yang telah membantu dana selalu menanyakann sampai dimana  openyelesaiabn pembangunan asarama , bahkan orangtua yang datang dari kampung , bila melihat kondisi asrrama seperti ini mereka menangis baru pulang . Tapi itu kenyataan yang kami terima saat ini sebab belum ada penyelesaain ” banyak    orangtua kami  yang datang ke sini  selalu kecewa, bahkan menangis   disini baru pulang setelah melihat keadaan kami sebab kondisi kami   tidur diatas terval . banyak pula  orangtua dari kampung  yang datang kesini kecewa ,sebab mereka tahu saja bahwa  bantuan dana  pembangunan asrama telah disalurkan lewat panitia pembangunan  tetapi kekecewaan yang dibawa pulang   . Sebelum adanya penggelapan dana pembangunan ini , pernah rapat dan minta pertanggungjawaban  penggunaan dana  tetapi itupun tidak mempan  banhkan hingga saat ini panitia tidak lagi  datang ke asrama .  Sempat berharap pula bahwa   asrama harus selesai  sebab kami tahu dana sekitar 80 juta ada tapi panitia  bilang dana habis . Hanya gara-gara  terlantarnya pemnangunan asrama  hubungan antara penghuni , panitia yang juga kepala keluarga  kami renggang . Hubnugan renggang gara –gara itu gara –gara  belum ada penyelesaian pembanmgunan ” Auwe   Menyoal makan minum , Auwe mengaku tidak pernah mendapat bantuan bahan makanan selama ini . ” Asrama kami  rtidak pernah mendapat bantuan  bama sedangkan asrama lain  dapat bantuan bama, tetapi itu kami upayakan  sendiri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu menurut Ketua Panitia Pembangunan yang juga Kepala Keluarga Kamuu , Kundradus Agapa, A.Md.Pd yang dihubungi media ini mengatakan soal pengelolaan keuangan  bertemu gdemngan bendahara sebab  semua pengelolaan keuangan ada di bendahara . Belum lama ini sempat mendekati penghuni termasuk keluaga Kamuu tetapi mereka menuding saya gelapkan uang maka sya lepas tangan  dan untuk itu hubungi bendahara mengangkut penggunaan dana . ” Saya  tidak bertanggung jawab atas pengelolaan dana pembangunan asrama sebab tidak mengetahui persis kondisi keuangan kami. Karena itu ade hubungi bendahara ” urai agapa ( 03/11)&lt;br /&gt; Lantas ketika  ditemui  media ini ,         markus gane bendahara pembangunan asrama kamuu,  mengatakan  dana yang dikirim dari kampung  menjadi  sumber pembangunan adalah hasil swadaya  masyarakat kamuu  dan  sumbangan para guru-guru sd yang ada di kampung . sementara   dana dari sumber lain  hingga  belum ada walaupun telah melakukan upaya penjaringan  dana .  pembangunan  asrama dapat saja dilakukan namun  dana  menjadi kendala . dimana  saat ini panitia berada pada posisi dilematis dimana  sisa dana yang apakah bayar untuk  ongkos kerja tukang  yang masih utang 25 juta  atau membeli membeli material bangunan untuk melanjutkan . kalau dahulukan  bayar ongkos kerja tukang  maka kelanjutan pembangunan berhenti sampai disitu tetapi kalau  didahulukan untuk membeli bahan bangunan  maka ongkos  kerja  tukkang  masih menjadi tanggunangan panitia sementara  dana yang ada hanya 25 juta sehingga panitia berada pada serba salah .” mau lanjutkan    ppembangunan , dana yang ada  25 juta saja sehingga satu harus ditinggalkan entah ongkos kerja tukang atau belanja meterial, sebab dana yang ada hanya sekitar itu . selama ini berkembang  banyak isu   bahwa atas nama&lt;br /&gt;pembangunan  asrama   menjaring dana namun hingga saat ini belum terima hingga kini . saya selaku pemegang dana pembangunan  belum terima bantuan dana  dari pihak manapun . sumber dana satu-satunya  yang digunakan selama ini adalah sumbangan sswadaya dari masyarakart kampung  dan guru-guru sd yang ada di lembah kamuu  kabupaten nabire. selain dari itu panitia belum pernnah menerima bantuan apapun dari manapun .   kemudian  untuk sementara ini pembangunan asrama asrama tidak dilanjutkan sebab dana  yang ada tidak mencukupii , baik untuk belkanja material , juga ongkos kerja tukang yang diminta 25 juta serta membiayai kebutuhan lainnya, apalagi pembanguanan asarama yang ukurannya 14x 16 meter sehingga memakan biaya yang tidak  . pelajar  dan mahasiswa   ttermasuk ikatan kerluarga kamuu sendiri menganggap bahkan menuding  kami menyelewengkan dana padahal perhitungan kami dana ada saat ini tidak cukup membbiayai keseluruhannnya . maka untuk sementara ini kami berhenti melanjutkan pembangunan sambil menunggu sumbangan yang  pihak luar yang masuk baik secara perseorangan  maupun kelompok , entah pemerintah mapun swasta . ada isu berkembang ada sumbangna yang masuk namun itupun hingga saat ini saya belum terima.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; paadahal banyak cerita yang dikembangan dikalangan kita ada sumbangan dari ini , itu namun kenyaaataan nya sebagai bendahara belkum pernah menerima sumbangan-sumbangan itu . sengaja dibiarkan kelanjutan pembangunan ini sambil mengikuti perkembangan   dewasa ini dimana atas nama pembangunan asarama  menjaring disana-sini . kalau sampai akhir tahun  ini tidak ada pihak  yang membantu dana maka akan dilakukan evaluasi  pembangunan ini ” urai gane  kjepada suara perempaun (8/11).&lt;br /&gt;selama ini banyak isu berkembang  adanya bantauan dana secara individual ,namun hingga saat ini  belum jatuh ditangan bendahara. ” walikota jayapura memberikan bantuan 10 juta namun dikasih lewat anaka-anak asrama . laporan penggunaan belum ada ,terus  sumber lain, dorang &lt;br /&gt;  m.r. kambu membantu tetapi  lewat penghuni langsung , laporan penggunaan hingga hari ini belum ada . terus sumber lain secara  individual ada cuma sebatas  cerita belum ada bukti pemberian bantuan  .  dalam rangka  penjaringan dana ,segala urusan administrasi yang selama ini saya pegang tapi selama menjaring ddana itu tidak ada yang  datang minta mengurus dana  . namun   mencari dana secara  individual, menjaring dana demi kepentingan pribadi  . walapun  demikian belum ada bantuan satupun yang masuk ke kas kami .  kami tunggu  isu yang berkembang   ada bantuan –abantuan tetapi belum ada realitas maka akhir tahun ini  kami akan habiskan dana yang ada . pejabat dari kamuu yang ada di jayapura saja tidak ada sumbangan  hanya tau bicara .malahan dengan atas nama  pembangunan asrama orang benar-benar memanfaatkan  kans ini untuk mendapatkan  dana     ”terang gane . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; asrama serviam kamuu , selain  tempat  tinggal satu-satunya bagi pelajar dan mahasiswa  kamuu  kab. nabire yang  belajar di jayapura , juga pusat kegiatan  pelajar, mahasiswa, kerukunana keluarga kamuu yang berdomisili di jayapura, baik acara perekenalan, seminar, peretemuan , acara syukuran wisuda, dan kegiatan lainnya , namun dalam proses  penyelesaian pembangunan asrama tak ada satupun orangtua di jayapouyra  yang peduli.bahkan banyak lontaran tak mengenangkan  sering dialanmatkan kepada panitia , ketika  menjaring dana . ” masyarakat kamuu selalu rajin melaksanakan banyak kegiatan  tapi tidak ada perasaan memiliki atas asrama ini bahwa keadaan asrama dalam kondisi telanjang . sejumlah hal dilakukan meyakinkan kerabat kamuu dipandang kasat mata . lallu siapa yang peduli ?. banyak orangtua  dari kamuu  yang menandaskan anak-/anak kami  pulang pergi sekolah dari  rumah orangtua jadi minta dana pembangunan  kepada masyarakat di kamuu. tetapi uang yang dibantu dari masyarakat sangat kurang sebab kita bangun asrama dengan ukuran 14x16 meter .lalu itu 2 lantai  yang membutuhkan dana yang cukup besar . mulai dari pembangunan awal hingga kini ditraktir 60 juta telah terkuras selain bantuan material yang diberikan secara perseorangan ” tandas markus .      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selama ini, anak-anak pelajar dan mahasiswa kamuu mengeluh itu wajar, hanya  jangan  omong  yang tidak betul karena tidak tahu opersoalan  sebab bagi oirang lain  menjengkelkan . anak-anak sendiri sudah merasakan dan mengalami  sendiri bagaimana orang bangun sebuah rumah dengan mengelola 10 juta melanjutkan pembangunan asrama .oranmg mernganggap dana sumbangann ,masyarakat yang dikirim itu  cukup padahal  membutuhkan biaya sangat besar . semua dana yang saya dapat  ada catatan  yang akan dibawa saat evaluasi akhir tahun ini . kalau  sama sekali tidak ada  sumbangan  dari luar maka yang ada sekitar  25 jutaan yang ada saat ini kita akan habiskan entah bayar ongkos kerja tukang atau belanja habis material bangunan . lalu siapa yang akan bayar ongkos kerja kalau belanja material bangunan dan sebaliknya .  masalah pokok yang  panitia hadapi saat ini kalau kita bayar utang ongkos kerja tukang atau beli  material semua . lallu ongkos kerja  tukang tetap akan jadi utang pada panitia kalau beli material bangunan . disinilah menjadi sebuah dilematis sebab kami tidak ada bantuan dana penmyelesaian pembangunan asarama ” urai gane. emanuel goo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-3925866884548529912?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/3925866884548529912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=3925866884548529912' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/3925866884548529912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/3925866884548529912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/asrama-kamuu-yang-tak-berdaya.html' title='ASRAMA KAMUU  YANG TAK BERDAYA'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-2445698731634262113</id><published>2007-12-30T17:07:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T17:09:10.507-08:00</updated><title type='text'>makeowapa</title><content type='html'>SELAMATKAN TANAH DEMI MASA DEPAN ANAK CUCU&lt;br /&gt;Tanggal :&lt;br /&gt;18 Nov 2007&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;TABLOID JUBI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FokerLSMPapua.org,&lt;br /&gt;JUBI - Makeowapa adalah gambaran di mana tanah yang dianggap suci ,keramat, kini sudah berubah menjadi ibukota Distrik Kamuu Utara. Padahal bagi orang Mee Makeowapa merupakan tanah suci, pusat penyebaran manusia dan budaya orang Mee.“Ketika dasar hidup dijual, digadai, dirusak maka akan hancur pula nilai-nilai hidup kita yang hakiki,” tutur anggota Majelis Rakyat Papua Philipus Degey belum lama ini di Nabire. Namun lanjut dia kini semua areal keramat itu telah berpindah tangan dari pemilik ulayat ke tangan-tangan pembeli dan pemodal serta berubah menjadi wilayah pemerintahan distrik.“Ketika daerah daerah keramat dijadikan sebagai dasar kehidupan dan sentral budaya dihancurkan maka kita akan kehilangan jati diri yang sejati dan tidak ada tempat bersandar hidup. Karena dasar hidup dijual, digadai, dirusak maka akan hancur pula nilai-nilai hidup yang hakiki,” tuturnya. Sebenarnya hilangnya tempat-tempat keramat dan sakral di tanah Papua baru sekarang ini terjadi. Sudah terjadi sejak awal 1960 an di mana kepeningan bisnis dan politik mulai menapakan tajinya di mana-mana terutama areal pertambangan, hutan dan pembangunan jalan trans serta lokasi permukiman baru termasuk program transmigrasi.Lihat saja Gunung Ertsberg atau Yelsegel Ongopsegel di daerah Kabupaten Mimika. Gunung keramat orang Amungme harus rela isi perutnya dilubangi karena kepentingan emas, perak dan tembaga demi sebuah investasi Walau gunung-gunung itu tempat keramat dan dunia tempat tinggal roh. Sebab kekuatan dunia roh ini, menurut masyarakat adat didapat dari tanah, sehingga kepemilikan tanah bagi Masyarakat Hukum Adat (MHA) adalah sesuatu yang mutlak. Kepemilikan atas tanah ini akan memberikan kekuasaan bagi MHA untuk memberlakukan adat mereka. Kepercayaan-kepercayaan ini tumbuh dan bertahan pada kelompok-kelompok MHA.Misalnya pada masyarakat Distrik Napan, yang meyakini bahwa hulu sungai Lagari yang dikenal dengan nama Nuba Urigwa adalah tempat yang sakral, yang menjadi tempat tinggal Kuri. Keyakinan ini membuat masyarakat dari kelompok budaya Kuri di kawasan Napan-Weinami dan Makimi memahami seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai wilayah yang tidak boleh dirusakan karena kehidupan sungai bersumber pada tanah di sekitarnya. Tanah dianggap rahim bagi air sungai dan air laut.Sedangkan pada budaya Suku Ngalum, Kabupaten Pegunungan Bintang setiap pohon, rotan, sungai, gunung hingga batu berhubungan dengan erat dengan suku-suku disekitarnya. Begitu eratnya hubungan ini sehingga dalam pembukan lahan, setiap laki-laki yang terlibat wajib memakan segumpal tanah. Ini mencerminkan bahwa tanah merupakan sumber kesuburan dan kehidupan sehingga masyarakat Ngalum harus mengikatkan dirinya dengan tanah yang tidak lain dianggap sebagai ibu. Kini penggalan tanah yang terletak di sepanjang jalan Poros Trans Nabire –Ilaga tepatnya di Distrik Kamuu dan Distrik Kamuu Utara alias Lembah Kamuu Kabupaten Nabire telah terjual habis . Karena tanah terjual habis, kini hutan mulai dirambah sehingga kayu mulai di jual. Lantas akan kemanakah anak-cucu Masyarakat Lembah Kamuu? Entahlah tetapisebagian besar Tanah yang terletak ditempat strategis telah terjual habis.Mulai dari Mata jalan Ekemani sampai di Idakoto yang kini dijuluki “kota baru” . Sepanjang jalan dari Pusat kota Moanemani hingga Mauwa tak ada yang tersisa, semuanya telah berpindah tangan dari pemilik ulayat kepada pembeli. Lalu di distrik Kamuu Utara ,di sepanjang jalan raya Trans Papua KM 207 sudah habis dijual,bahkan di halaman depan Puskemas Idakebo saja telah dibangun barak kios. Tanah-tanah disitu dijual dengan kisaran harga lima juta ke atas. Makeowapa sendiri sejak dulu diyakini sebagai tempat keramat.Tanah dan seisinya adalah asset satu-satunya yang dimiliki oleh masyarakat local maka masyarakat perlu mengamankan dari pencaplokan dari pihak lain. Strutur adat di lembah Kamuu tidak sama dengan struktur adat daerah lain tetapi kembali pada nilai-nilai budaya.Lebih lanjut, Philipus Degey menjelaskan bahwa menjual tanah berarti menjual ibu yang memberi susu dan madu, juga menyerahkan diri sendiri dengan seluruh hidupnya. Kalau ada yang menjual tanah lagi maka sebaiknya diusir saja dari kampung. “Tanah bukan warisan kepada kita melainkan hanya dititipkan sementara buat anak cucu yang akan datang. Sehingga kita tak perlu lagi mengklaim tanah bahwa itu milik saya, tetapi bagaimana menjaga harta satu-satunya milik cucu kita dan menghiasi tanah ini dengan berkebun atau beternak selama kita hidup diatas tanah.” ujar Philipus Degey. Philipus juga mengakui jika panorama lembah Kamuu memang sangat indah sehingga banyak yang ingin mencaploknya. Maka harus dipertahankan sebagai harta utama yang dimiliki. Jika tanah tersebut hilang maka sama saja dengan kehilangan segalanya sebagai orang asli. Sebab hanya tanah inilah dimiliki. Juga jika pemilik tanah dan orang luar bercampur maka pemilik ulayat akan hilang ditengah penduduk yang baru datang. “Jika menjual rotan, kayu, batu, atau pasir, tidak jadi soal. Tapi bila menjual tanah berarti mama sendiri.” tegasnya.Sedangkan menurut Andreas Goo, S.Sos, salah satu intelektual di Nabire, sistem yang berlaku pada Masyarakat Adat adalah berdiri diatas tanah. Hidup dan bekerja diatas tanah yang nantinya akan menjadi Tonowi. Ketonowian didapat melalui kerja dan usaha dari tanah. Sehingga saat ini, untuk merusak system tatanan kehidupan orang Mee, banyak orang yang datang dengan membawa sejumlah uang untuk membeli tanah. Paulinus Agapa, tokoh agama orang Mee mengibaratkan manusia sebagai kayu yang tumbuh diatas tanah. “Ibarat kayu yang tumbuh dari dalam tanah, maka manusiapun hidup dari kecil diatas tanah. Sehingga harus menghargai tanah seperti menghargai ibu sendiri.(Emanuel Goo/Dominggus Mampioper)&lt;br /&gt;[ &lt;a href="http://www.fokerlsmpapua.org/artikel/trend/index.php"&gt;Indeks&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.fokerlsmpapua.org/artikel/trend/artikel_cetak.php?aid=3280"&gt;Versi Cetak&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.fokerlsmpapua.org/artikel/trend/artikel_kirim.php?aid=3280"&gt;Kirim ke Teman&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://www.fokerlsmpapua.org/artikel/trend/artikel_tgp.php?aid=3280"&gt;Tanggapan&lt;/a&gt; ]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-2445698731634262113?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/2445698731634262113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=2445698731634262113' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/2445698731634262113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/2445698731634262113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/makeowapa.html' title='makeowapa'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-9112125651143789185</id><published>2007-12-30T17:03:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T17:04:11.889-08:00</updated><title type='text'>memerangi kekerasan</title><content type='html'>MEMERANGI KEKERASAN TANPA KEKERASAN&lt;br /&gt;      Oleh Emanuel Goo&lt;br /&gt;Damaiku, Damaimu, Damai kita . Damai itu indah .Demikian  sepenggal tema yang diambil  dalam  merayakan hari doa” Damai “ sedunia pada bulan oktober  lalu di Jayapura dalam rangka menciptakan  Tanah Papua sebagai  tanah Zona Damai di Papua .Ada apa dengan damai? Mengapa diambil doa damai? Hendak kemana  mencari damai? Tak berlebihan  bila berbagai denominasi  agama  (Kristen, Katolik, Hindu Budha ,Islam )  bersatu menurunkan   dengan tema “Damai” sebab rasa kedamaian yang dicari selama ini  semakin jauh  dalam konflik dan kekerasan bernuansa SARA  yang merebak dimana-mana baik diti ngkkat  local,nasional maupun  ditingkat dunia internasional .&lt;br /&gt;Dewasa ini  adalah saat-saat yang penuh dengan ketegangan,konflik dan mudah saja menimbulkan kekerasan,baik antara suami,isteri,adik dan kakak,antara suku yang satu  dengan suku lain,antara kelompok pendatang dengan kelompok penduduk setempat, orang pedalaman dan pesisir, antara satu agama dengan agama lainnya. Hampir setiap hari  dengan mudah kita menyaksikan  kekerasan merajalela di mana-mana dan kekerasan dengan sendirinya  telah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Bagaimana reaksi atas kekerasan yang secara terang-terangan  terjadi hampir setiap hari, daerah sehingga mempengaruhi kehidupan . Tidak ada jalan lain selain membawa damai di tengah-tengah kekerasan  yang merajalela di sekeliling kita. Damai itu sangat dibutuhkan setiap orang bahkan diri  sendiri. Karena itu  mulailah berkata tentang  sesuatu yang mendatangkan  damai diantara kita dan tak lupa pula merasakan hal-hal yang positif  untuk memupuk damai diantara kita. Yesus mengajarkan bahwa kita harus berbuat sesuatu yang baik kepada orang lain seperti apa yang kita inginkan orang lain perbuat kepada kita. Berdamai itulah jalan yang terbaik untuk semua orang. Kebencian,kerakusan dan iri hati tidak akan menyelesaikan masalah, malah menambah persoalan dari yang satu kepada persoalan yang lain.&lt;br /&gt;Rasa perdamaian dan solidaritas dimana-dimana sudah dilukai,yang dulunya diakui ramah dan bersahabat. Kini tiba-tiba, menjadi keras. Kejam dan brutai menjadi pembunuh-pembunuh perang saudara seperti kritik di Ambon. Hak-hak asas manusia terus-menerus ….terakhir pembunuhan Theys dan penembahkan warga sipil di timika……dan kecil masih saja diusur, dikorbankan ………………penegak hukum untuk melindungi keadilan malah  men jadi korupsi pemerasaan. Harkat dan martabat luhur sebagai manusia merdeka sudah pudar menggelam . lagi dalam primodialisme kemudian muncul lagi fanatisme buta antar SARA, (suku Agama, Ras, Adat dan Istiadat) yang dibakar dan dikipas-kipas oleh provokator bayaran dari penguasa-penguasa politik , seperti halnya terror pemboman rumah pemimpin redaksi radar timor di Kupang, NTT. Belum lama ini akibat pemberitaan-pemberitaan yang kritis dan objektif, keterlibatan dan kedisiplinan yang membawa rasa damai bagi kita merosot sekali. Bukan hanya didaerah kita semua hal itu terjadi tetapi daerah yang jauh dari kita bahkan diseluruh dunia menjadi perang politik kekerasan dengan terorisme. Kejahatan criminal balas dendam perompokan dan pembunuhan (baca: penembakan warga asing  di Timika beberapa waktu lalu )genoside secara besar-besaran untuk menghapuskan suatu etnis sehingga jutaan jiwa  manusia menjadi korban kon g dan kekerasnan.&lt;br /&gt;Kecenderungan manusia papua ini adalah menanggapi konflik dengan bentuk kekerasan , baik kekerasan fisik, kekerasan struktur, maupun kekerasan budaya, sehingga budaya kekerasan menjadi kenyataan dan sajian utama dalam pemberitaan di berbagai media massa, jugaa “Menu” dalam kehidupan sehari-hari yang  merupakan tanda-tanda kerusakan dunia dan kebobrokan manusia ini terjadi berulang kali karena meraja lelanya individualisme, hedelisme, dan korupsi, skala besar yang dengan serakan menjarah kekayaan bumi sampai  merusak lingkungan hidup kini dan masa depan.&lt;br /&gt;Hal ini mengingatkan manusia/kita sedang sakit. Penyakit ini terlihat dari kecenderungan dalam setiap konflik yang langsung bereaksi dengan kekerasaan. Bahkan sering kali secara biadab seakan-akan kemampuan untuk sabar, menerima keberadaan orang lain yang berbeda suku, Agama, dan Adat istiadat sudah sirna dan menguap. Manusia menjadi masalah secara psikologi. Kita tidak mampu membawa diri secara normal mengolah konflik-konfliknya secara wajar. Budaya kekerasaan sudah merupakan kenyataan dalam kehidupan bangsa besar ini setiap gesekan atau konflik dapat berakhir dengan pembunuh atau perkelahian masal.&lt;br /&gt;Dari kemelut kekerasaan ini, dapat dipertanyakan apa latarbelakang suasana yang membuat kita mengekspresikan kemarahan dan keputusan dengan kekerasan? Bahwanya  modernisasi dan globalisasi ikut andil atas manusia dunia yang  membuat berada dalam keadaan tegang secara terus menerus sehingga terjadi proses transformasi budaya yang mendalam dari masyarakat &lt;br /&gt;M,on tradisional kepasca tradisional maka dengan sendirinya terjadi disorietasi/disfungisonal yang terasa sebagai ancaman ekonomis, psikologi dan plitis.&lt;br /&gt;Cara –cara penyelesaian konflik tradisional tidak mampan alias mendukung, begitu pula dengan cara-cara tradisional untuk menghadapi kemajemukan dalam masyarakat tidak lagi bekerja. Maka otonomis kecenderungan primodialistik kedalam dan agresif keluar bertambah selama manusia mengalami proses modernsisasi sebagai proses yang positif untuk meningkatkan rasa kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan. Tekanan umum ini mengapa baru dalam tahun-tahun terakhir ini kekerasaan demikian meraja lela ? mengapa kita mudah terprovokasi ? tak dapat dipungkiri bahwa adanya tendensi-tendenssi eksklusif, baik dikalangan agama maupun  suku bangsa (kelompok masyarakat) yang memiliki dampak mengkafirkan yang beragama lain dan mengajar kita untuk mengambil jarak dari orang lain yang kafir, segala macam cerita tentang golongan atau kelompok lain tanpa usaha untuk menjamin kebenarannya, pemanasan hubungan antar golongan atau siapa siapa kita ppermasalahkan ? Entahlah .namun semuanya ini tidak terlepas dari system kekerasaan orde (ORBA) yang merupakan melembaganya kekerasaan. Berdasarkan kekuasaan tak tertanding, hampir semua konflik sosial/kepentingan tidak selesaikan secara rasional, obyektif, atau dialogal yang adil, melainkan menurut kekuasaan kooptasi, ancaman, intimidasi, dan penindasan. Hanya dengan jalan itulah orang atau kelompok orang dapat mempertahankan diri atau maju selama orde baru. Kebrutalan aparat (TNI-POLRI) dimana pun mereka beraksi dibarengi dengan slogan pada masyarakat tentang-tentang nilai-nilai luhur” Rasa kebangsaan dan persatuan kesatuan yang menambah sinisme dan rasa putus asa. Kenyataan membukti yang jelas,jika kita memilik kasus-kasus ditanah air , konflik SARA di Ambon, GAM di Aceh OPM di Papua,dll.hal ini dapat mengerti bahwa dengan slogan mempertahankan persatuan dan kesatuan demi keutuhan NKRI itu terjadi kekerasaan fisik yang mengorbankan saudara-saudaranya sendiri.&lt;br /&gt;Kita diliputi budaya kekerasaan semakin menurun karena konflik sehari-hari tidak lagi mampu ditangani dengan baik.melainkan langsung meransang kekerasan serta melibatkan komuitas yang bersangkutan oleh pihak-pihak gelap alias provokator (mungkin TNI,POLRI, penguasa, mungkin juga warga Sipil lainnya).&lt;br /&gt;Kita adalah masyarakat plural yang terdiri dari berbagai etnik, agama dan adat-istiadat ini, kini titik sambung pluralistic mulai retak, ibarat terkena atrofi kemampuan untuk berisolidaritas melebihi lingkungan primodial yang mengarah suatu penyempitan focus perhatian pada kelompok sendiri karena kemampuan untuk merasakan kebersamaan, telah digerogofi oleh konsep “ kami dan mereka “ bukan kita semua.Hal ini dirasakan suatu ancaman besar yang hidup dalam kehidupan pluralitas. Lantas mengapa kita menjadi seperti itu ? Pluralistas kita adalah kenyataan yang ada, dulupun seringkali terjadi konflik ketegangan tetapi merebaknya konflik komunitas seperti sekarang ini baru mulai beberapa tahun belakangan ini, (sejak Presiden Soeharto turun dari Prabonnya).&lt;br /&gt;     Aktualisasi ditingkat rakyat langsung hanya akan efektif, apa bila diciptakan kondisi structural yang mendukung dimana aparat pemerintah (TNI-POLRI), Efektif, Yudikatif) harus mengembalikan hukum dan membongkar provokasi yang hendak menggunakan keadaan konflik. Penggaran hak asasi manusia di tegakkan secara tegas dan transparan yang demokratis. Seharusnya kita belajar untuk menghadapi konflik-konflik diantara kita secara terbuka, rasional dan dialogis. Bersama dengan itu seakan-akan kurang berfungsi. Karena hidup dalam situasi kondisi yang keras, kacau, dan menegangkan dalam kehidupan kita, maka dalam mengatasi konflik dan kekerasan. Nilai-nilai asli masyarakat yang positif diaktualisasikan, dengan menyadari pluralistas dalam agama, etnis, dan budaya sebagai suatu bangsa besar.&lt;br /&gt;     Adalah suatu realita bahwa ini tokoh agama sudah menjadi figure yang selalu dihormati. Disegani dan diagungkan, oleh umatnya maka guna menghadapi aneka macam konflik SARA belakangan ini, tokoh agama telah berbuat berbagai usaha perdamaian terakhir seruan Doa Damai Sedunia dan berbagai Dominasi, agama. Suku bangsa, budaya melalui rekonsiliasi dengan harapan membangun hidup bersama dalam suatu social society yang damai dan sejahtra DAMAI ITU INDAH.&lt;br /&gt;     Penulis Adalah  koresponden suara perempuan papua Pemerhati Tinggal Di Nabire&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;     POTENSI KEPEMIMPINAN TRADISIONAL MASYARAKAT PAPUA&lt;br /&gt;     Oleh&lt;br /&gt;     EMANUEL GOUBO GOO&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;     Masyarakat papua terdiri dari berbagai etnis yang berjumlah + 253 kelompok etnis.Setiap kelompok etnis memiliki sistim kepemimpinan tradisional tertentu dan menampilkan sifat-sifat yang pada satu sisi memiliki  persamaan dan pada sisi lain memiliki perbedaan-perbedaan. Dalam disertasi DR.J.R.Mansoben,MA secara gamlang membagi 4 tipe sistim pemimpinan tradisional alias local dipapua,diantaranya, sistim kepemimpinan kepala suku,sistim kepemimpinan kerajaan,sistim kepemimpinan pria berwibawa,dan sistim kepemimpinan campuran.&lt;br /&gt;     Bila ditinjau lebih jauh dari keempat tipe sistim kepemimpinan tradisional yang tersebar dipap[ua ini,banyak memiliki ciri-ciri spesifik yang memperjuangkan kesejatrahan umum,menegakkan keadilan dan kebenaran,serta menjaga keselamatan bagi warganya. Lantas sistim kepemimpinan formal masuk kedalam sistim kepemimpinan tradisional,maka terjadi dualisme kepemimpinan didalam masyarakat,timbul pertanyaan dampak apa yang diterima oleh masyarakat,atas berbaurnya sistim kepemimpinan tradisional alias local dengal kepemimpinan formal.&lt;br /&gt;     Awal kehadilan atau masuknya sistim kepemimpinan formal yang dibangun oleh pemerintah belanda dan Indonesia ini,telah terjadi kenangan dalam-dalam sistim kepemimpinan local, sehingga terjadi pula dualasmapemimpinan antara local dan formal yang dalam  berimbasnya kebingugan dalam masyarakat tradisional. Disinilah awal pengujian legitimasi kepemimpinan tradisional dan sistim keterpimpinan local yang adalah telah ada legalitas atas cirri-ciri dan kenabilitasnya dalam alinea perpolitikan dimasyarakat.sememtara kepemimpinan fomal diterim dan akui begitu saja tampa adanya suatu pengunjian regetimasi,karena suatu hal baru yang berasal dari pemerintah.&lt;br /&gt;     Kepemimpinan tradisional yang telah lama hidup dan berkembang dalam masyarakat Papua mulai tergeser dengan kehadiran kepemimpinan formal yang diturunkan oleh pemerintah Belanda ataupun Indonesia yang diplementasikan melalui program pembangunan Desa,Kecamatan,Kabupaten,dan lainnya,sehingga otomatis pula pemimpin-pemimpin local tergeser dan mulai menyaksikan kepemimpinan I formal[Desa,Camat,Bupati,Gubernur,DPR dan lainnya dengan implementasi program,sementara  kepemimpinan local  implementasinya  dengan kapabilitas yang dimilikinya lebih cenderung mengutamakan kesejahteraan warga,kesejahteraan warga,kesemuanya dilakukan dengan nurani yang polos tanpa ambisi radikal menjadi pemimpin local. Lain halnya dengan system kepemimpinan formal [Desa,Camat,Bupati,DPR,dan lainya].selai syarat dengan ambisi naik ke level yang lebih tinggi,juga mencari masa melaui korupsi,kolusi dan nepotisme.&lt;br /&gt;     Sistem kepemimpinan formal yang telah bercokol hingga kedaerah terpencil ini telah terjadi perubahan-perubahan  radikal,yakni semakin menyempitnya ruang gerak peranasn took-toko tradisional,karena mereka tidak diperhitungkan lagi dalam implementasi program pembangunan didaerah kekuasaannya,sehingga tidak mengherankan bila terjadi penyimpangan-penyimpanggan yan merugikan rakyat kecil,disana sini saja kasus korupsi diatas program pembangunan yang diimplementasikan,yang pada ujung-ujungnya hilang mosi masyarat terhadap system kepemimpiana formal baik ditingkat desa,hingga pemerintah pusat sekalipun. Disini banyak kasus yang dapat kita lihaat,dana IDT,Bangdes,PPK,ditingkat desa,misalnya banyak warga desa tidak menikmati dana-dana bantuan tersebut,yang tragisnya dinyalir dana-dana tersebut jatuh ditangan kepala desa dn aparat Camat,dan lain-lainnya,sehingga apatisme pembangunan yang terjadi disana. Hanya sebuah kasus kecil dalam system kepemimpinan desa,belum kasus besar lag yan terjadi ditingkat kabupaten,propinsi,bahkan pusat.berkaitan dengan ini Drs.Mieke sehousen dalam sebuah hasil penelitian mengatakan “Tidak mengheraankan hal ini bukanlah gejala yan&lt;br /&gt;Baru.Ia menyebut kesulitan dalam melaksanakan langkah-langkah pemerintah jika kepala desa tidak disenangi:kemudian penduduk desa ,dengan perlawanan pasif,sekalipun merugikan ini”. Disinilah legitimasi system kepemimpinan diuji dimata rakyat,baik itu kahadiran aparatur pemerintah sebagai pemimpin formal implementasi program.&lt;br /&gt;       Sistem kepemimpinan tradisional telah tergeser dengan adanya berbagai transformasi termasuk system kepemimpinan formal yang merakyat dimana-mana.lantas dengan adanya pembentukan majelis rakyat papua,kasak-kusuk membicarakan,tokt lokaal sebagai salah satu pilar dimeja tersebut,pada hal beberapa decade lamanya tokoh local diposisikan hanya sebagai penonton bahkan tak perna dilibatkan dalam implementasi program alis proyek pembangunan,yang semestinya dialah yang memiliki pengaruh dimasyarakat.apabila kalaupun nanti majelis rakyat papua mulai diisi,percaya atau tidak akan muncul tokoh-tokoh local gandungan alias aspal [Asli tapi palsu ]yang mengaku dirinya tokoh dari suku ini atau suku itu,sementara tokoh pemompin berkualitas masih jauh berada dibalik gunung,lembah ataupun dipinggiran pantai,karena telah digeserkan sebagai pemimpin local dengan adanya kepemimpinan formal.dan juga pemimpin local diadakan yang muncul sepperti itu telah terkontaminasi dengan kepemimpinan formal yang penuh dengan kebobrokan,sehingga perlu pengujian criteria-kriteria legitimasi dan kapabilitas perpolitikan tradisional dimasyarakat.bila seorang mengakui dirinya sebagai tokoh adapt atau sejenisnya guna memperoleh jabatan anggota majelis Rakyat papua atau untuk memperoleh sesuatu,maka perlu dipertanyakan legitimasi dan kapabilitas dia sebagai tokoh masyarakat alias pemimpin local dari suatu etnis,baik yang mengakui sebagai bobot,tonowi,ondofolo,kayepak,kain,nagawan ,sonowi,membri,dan lainnya,sehingga diakui ketokohannya. Untuk itu perlu legitimasi dari masyarakat sebagai seorang tokoh,sebab dengan berbagai perubahan sosial budaya yang berubah cepat itu secara otomatispula telah berubah ketokohan yang sebenarnya demi memperjuang dewasa ini keakuan toko local telah terkontaminasi dengan kepemimpinan formal yang penuh dengan politik kotor dengan berorientasi untuk mencari kepentingan pribadi mengorbankan rakyat kecil yang tarah tau apa-apa.sebab pemimpin local dari suku-suku bangsa yang ada dipapua telah diuji dan memenuhi criteria serta memiliki kapabilitas dimasyarakat,sehingga ketokohannya mendapat legitimasi dari pendukunnya,hanya saja mereka tersebar dikampung-kampung terpencil.&lt;br /&gt;       Dari uraian ini,ditarik simpulannya bahwa legitimasi kepemimpinan formal telah menggeserkan posisi tokoh masyarakat,sehingga berubah pada kegoncangan dan ancaman system kepemimpinan local,selain itu dengan adanya kepemimpinan formal meninggal preseden buruk bagi warga dengan mencermati penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pemimpin formal,juga terjadi dualisme kepemimpinan yang berimbas pada apatisme masyarat terhadap berbagai implementasi program pembangunan karena masyarakat mengakui kepemimpinan local.bersamaan itupula terjadi perpecahan solidaritas sosial yang ada sejak leluurnya,serta telah membatasi ruang pemimpin local,pula kepemimpinan formal telah mematikan kreatifitas masyarakat dalam usaha-usaha produktif ,yang ujung-ujungnya kini mereka mengharapkan bantuan [beras JPS,Beras Miskin alias raskin,bantuan kukesra,dan lainnya] dari pemimpin formal yang hanya membuka peluang kepada masyarakat mengharapkan bantuan lagi,yang tahu-tahunya pemerintah [pemimpin formal]pun meminjam bantuan luar negeri[padahal diapun trada apa-apa].&lt;br /&gt;       Disinilah imbas dan problematika dari system kepemimpinan formal, sementara kepemimpinan local telah sirna bersama waktu, yang kini tinggal hanya nama atau konsep” Tonowi,Ondofolo,Kain,Sonowi,Kayepak,Tesmaypit,Bobot, Nagawan,dan lainnya,sedangkan isi atau ciri dan kapabilitas tarah tau entah kemana perginya.&lt;br /&gt;       Akhirnya,bila kursi majelis rakyat papua mulai dibagikan,maka jangan lupa sisikan pemimpin local yang ada dikampung-kampung,baik itu dibalik gunung,lembah,pesisir,pantai,daerah aliraan sungai,daerah rawah dan lainnya.perhitungkan pemimpin local sebab dia mempunyai pengaruh yang sangat kuat dimasyarakat juga mengetahui keberadaan masyarakat serta memperjuangkan segala aspirasi dan kesejahteraan warganya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;                                                                           Penulis Adalah&lt;br /&gt;Kontributor Papua Pos Nabire &amp;amp;&lt;br /&gt;                                    Wartawan Suara Perempuan Papua&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-9112125651143789185?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/9112125651143789185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=9112125651143789185' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/9112125651143789185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/9112125651143789185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/memerangi-kekerasan.html' title='memerangi kekerasan'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-3699274141103345963</id><published>2007-12-30T16:50:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T16:57:47.766-08:00</updated><title type='text'>Membedah Pembagian Kerja antara Perempuan dan Laki-laki  Etnis  Mee  Bersama Ny. Theresia Dogomo ,S.Sos</title><content type='html'>Perempuan  sebagai komunitas yang lebih dari separuh jumlah penduduk merupakan unsur potensi yang mutlak diikutsertakan dalam proses pembangunan Papua  sebab perempuan Papua  memberikan sumbangsih yang cukup dalam berbagai aspek kehidupan baik kepada Negara, Bangsa, Masyarakat dan keluarga sesuai peran dan fungsi kaum perempuannya. Dengan demikian peran serta perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender di bidang pendidikan pun telah dibuktikan oleh Raden Ajeng Kartini yang bangkit  dengan mottonya yang terkenal “Habis Gelap Terbitlah Terang“ yang mana selalu memperingatinya setiap tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Kelahiran Kartini di bulan April dijadikan momentum bahwa wanita mempunyai posisi dan kekuatan untuk membuat perubahan baik untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya ataupun bangsanya. Zaman telah berubah, namun Kartini tetap memberikan insprasi bagi kaumnya dan juga bangsa ini untuk tetap maju. Perempuan  saat ini lebih berani untuk bersuara dan juga bersikap untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya demi tercapainya keadaan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Sejarah memberikan bukti dan mencacat bahwa peran, fungsi ganda dan sumbangsih dari kaum perempuan sesuai peran yang diemban cukup berat di mana peran ganda perempuan bermain di dalam mempertahankan kehidupan  ekonomi keluarga. Beban kerja perempuan cukup berat dipikul kaum perempuan  sehingga terjadi ketimpangan relasi gender. Peran ganda perempuan dalam keluarga untuk meningkatkan ekonomi keluarga ini selain melakukan pekerjaan domestik (seperti, memasak, mengasuh anak, berkebun, mencari kayu bakar, memikul air dan lainnya) dan pekerjan publik alias pekerjaan di luar rumah seperti berjualan di pasar, mengikuti kegiatan posyandu, aktif dalam kegiatan keagamaan, organisasi masyrakat, dan lainnya, yang sangat menyita waktu dan tenaga yang banyak. &lt;br /&gt;Untuk  mengetahui dan menganalisis pola relasi gender masyarakat dalam meningkatkan ekonomi maka diperlukan kegiatan analisis gender. Analisa gender membantu mensistematiskan pengalaman penindasan perempuan dan memberi ruang berpikir untuk merubah ketidakadilan gender. Analisa gender meletakkan masalah pada pola hubungan perempuan dan laki-laki sehingga masyarakat dapat memperbaiki pola hubungan laki-laki dan perempuan untuk membangun pola yang lebih adil termasuk dalam peningkatan ekonomi keluarga. Salah satu analisa paling sering dilakukan para peneliti, aktivis, dan para ilmuan adalah analisa profil aktivitas (pembagian tugas gender) dan profil akses serta kontrol perempuan, selain Analisis profil aktivitas (pembagian kerja gender) di mana dikaji apa tugas/ peranan perempuan dan laki-laki, peran rangkap perempuan, berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan, kapan pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan (setiap hari atau waktu tertentu), di mana pekerjaan-pekerjaan itu berlangsung, entah di rumah, di kebun, di pasar, kegiatan keagamaan). Sedangkan dikaji dari akses dan kontrol, siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya produktif (tanah, hutan, perlengkapan-perlengkapan, pendidikan dan latihan), lalu siapa yang mengontrol hasil produksi, dan siapa yang memperoleh manfaat dari penggunaan sumber daya yang ada .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Berdasarkan hal inilah saya tertarik untuk menkaji  masalah  perempuan, apalagi  saya  agen tabloid  suara perempuan Papua  di nabire telah memberikan inspirasi untuk  menulis  maka   saya  menulusuri bagaimana kehidupan  perempuan  Mee  dalam  pembagian kerja , demikian dikatakan ny. Theresia Dogomo   ketika usai  mempertahankan  skripsinya  dihadapan para penyuji  di kampus Universitas  Wiyata Mandala  nabire  pada  rabu 24 september lalu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dalam realitas   dan  hasil study yang dilakukan belum lama ini  kata Theresia  , Perempuan  Mee melakukan beban kerja yang cukup berat. Beban kerja perempuan lebih berat dibandingkan beban kerja laki-laki. Perempuan dapat melakukan pekerjaan, di kantor, di pasar, di kebun, di kali, di danau, di hutan, dan lainnya, selain pekerjaan domestik (pekerjaaan dalam rumah tangga). Kesempatan untuk istirahat dan waktu luang bagi pria lebih banyak (seperti jalan-jalan di pasar, kios, di terminal sekedar menyaksikan kendaraan yang lalu lalang maupun penumpang hendak melakukan bepergian ke Nabire serta ke Enarotali, urus perkara main judi, duduk cerita-cerita dan lainnya). Adanya anggapan bahwa kaum laki-laki merasa tabu dan akan menurunkan derajatnya apabila laki-laki melakukan pekerjaan tertentu yang adalah pekerjaan perempuan.&lt;br /&gt; Dengan demikian pada saat ini telah terjadi ketimpangan atau ketidakadilan dalam pembagian peran antara perempuan dan laki-laki  Mee sebab beban kerja perempuan Mee lebih banyak dan bervariasi dibandingkan dengan beban kerja laki-laki. Dengan demikian dari analisis gender dengan topik pembagian kerja “selama 24 jam sehari“ dikatakan bahwa: “perempuan dan laki-laki Suku Mee melakukan pekerjaan yang berbeda selama 24 jam, biasanya perempuan lebih lama bekerja, perempuan melakukan pekerjaan yang banyak dan bervariasi dalam waktu yang bersamaan, beban kerja perempuan lebih berat dibanding laki-laki waktu istirahat untuk laki-laki lebih banyak dengan demikian perempuan Mee terlibat dalam tiga tipe pekerjaan yaitu; pekerjaan produktif, pekerjaan reproduksi dan pekerjaan sosial kemasyarakatan serta keagamaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dewasa ini kaum laki-laki Mee sedang memasuki tahap kehilangan identitas diri, di mana seluruh pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh laki-laki  Mee, sudah lebih banyak diambil alih oleh Kaum perempuan “ urai dogomo yang skripsinya    direkomendasikan masuk di meja MRP  ini .&lt;br /&gt;Etnik  Mee yang mendiami di Distrik Kamuu Kabupaten Nabire telah menetapkan karakteristik perempuan dan laki-laki (gender) berdasarkan nilai-nilai budaya yang mereka anut, termasuk di dalamnya adalah peran-peran apa yang dilakukan oleh kaum laki-laki dan peran apa yang dilakukan perempuan, bagaimana kedudukan laki-laki dan perempuan serta sumber-sumber daya apa saja yang dapat dijangkau dan dikontrol oleh laki-laki maupun perempuan dalam memenuhi kebutuhan hidup kelurga, namun di jaman ini penulis melihat bahwa dengan adanya akulturasi budaya secara terus-menerus telah berpengaruh besar pada nilai-nilai budaya yang dianut sebelum adanya akulturasi budaya tersebut, yang berdampak pada situasi ketimpangan gender yang banyak merugikan kaum Perempuan  Mee´urai perempuan kelahiran kampung Mauwa   ini . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masyarakat Papua umumnya telah menetapkan laki-laki dan perempuan (gender) berdasarkan nilai budaya yang dianutnya, termasuk  di dalamnya adalah peran apa yang harus dilakukan oleh kaum laki-laki dan peran apa yang dilakukan oleh kaum perempuan, bagaimana kedudukan laki-laki dan perempuan serta sumber daya apa-apa saja yang dapat dijangkau dan dikontrol oleh laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;Pada zaman sebelum ada akulturasi (kontak dengan dunia luar) peran tradisional laki-laki dan perempuan cukup seimbang. Laki-laki dan perempuan, memiliki tanggung jawab yang sama beratnya. Laki-laki  bertanggung jawab terhadap urusan politik (perang, membuat negosiasi dengan musuh, menggelar pesta babi atau Yuwo) menjaga keamanan kampung termasuk harta benda keluarga, mengurus pesta-pesta adat, berburu, membuka lahan baru, berdagang. Sementara perempuan   bertanggung jawab terhadap urusan pencarian makan di kebun, menyiapkan makan bagi keluarga, mengurus ternak babi dan pekerjaan dalam rumah tangga serta membantu laki-laki dalam menyiapkan upacara-upacara adat, mengasuh anak.&lt;br /&gt;Namun kini lanjut Tedo  dengan adanya akulturasi (kontak budaya) dengan budaya luar, peran-peran tersebut telah berubah. Sebagian besar peran laki-laki berkurang/hilang seperti urusan perang, menjaga keamanan kampung, mencari kayu bakar, mengurus upacara-upacara adat, tugas membuka lahan baru (kebun baru) juga semakin dipersingkat/ banyak kemudahan teknologi  yang diperkenalkan untuk membantu kaum laki-laki ketimbang perempuan.&lt;br /&gt;Lain halnya dengan perempuan. Dengan adanya  perubahan ini peran tradisional perempuan masih tetap, bahkan ditambah dengan peran-peran baru sebagai akibat meningkatnya kebutuhan hidup seperti tanggung jawab   untuk mencari uang, mengikuti kegiatan-kegiatan Posyandu, PKK, Kegiatan gereja dan kegiatan kemasyarakatan lainnya .  &lt;br /&gt;Dengan demikian dapat dikatakan, kaum perempuan memiliki beban kerja yang cukup berat, sementara pada sisi lain kaum laki-laki berkurang dalam peran sebab adanya perubahan budaya dengan memperkenalkan teknologi baru. Kondisi dewasa ini beban kerja perempuan Mee dalam menaikan tingkat ekonomi Keluarga cukup berat ketimbang laki-laki sebab    dari pagi hinggga matahari condong matahari perempuan melakukan sejumlah pekerjaan mulai dari memasak makanan buat keluarga,  menyusui anak, memberi makan ternak, mengurus ternak, mengolah kebun,  berjualan di pasar, mengikuti sejumlah kegiatan sosial yang melibatkan mereka.&lt;br /&gt;   peran dan tugas yang dilakukan perempuan dan laki-laki  Suku Mee dalam meningkatkan aspek  ekonomi, seperti; berkebun, ternak babi, berdagang, berburu, menangkap ikan mengolah kebun,  mengasuh anak .&lt;br /&gt;Sistem Mata pencaharian pokok bagi orang Mee  adalah bercocok tanam ubi jalar alias berkebun. Jenis tanaman  yang ditanami ubi jalar, keladi, sayur, sayuran dan sayuran tumpang sari lainnya. Semua jenis tanaman yang ditanami sebagian besar dikonsumsi oleh keluarga (terutama ubi jalar), selebihnya dijual ke pasar untuk memenuhi  kebutuhan hidup keluarga juga untuk membayar biaya sekolah. Kegiatan berkebun biasanya dilakukan baik oleh laki-laki maupun  perempuan. Sejak pagi  pukul 7.00 sampai sore hari  pukul 16.30. &lt;br /&gt; Pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Jenis pekerjaanan ini awalnya dilakukan oleh laki-laki, terutama pembukaan lahan baru sekaligus membuat pagar sedangkan mulai dari penanaman, pembersihan atau menyiangi, memanen  hingga distribusi hasil panenan lebih banyak dilakukan oleh perempuan .    perempuan melakukan, berkebun ,membersihkan dan membakar lahan baru, Mencari bibit  dan Menanam ,Membuat  bedeng ,Menyiangi,,memanen,,menyangkut hasil panen,,distribusi dan pemasaran hasil produksi,, mencari Kayu Bakar dan memikul kayu,membantu dalam proses pembangunan rumah (memasak makanan, mengangkut material pembangunan rumah), sedangkan laki-laki Membuka Lahan Baru ,acapkkali Menebang Pohon  ketika membuka,lahan baru, Membuat  pagar , Membuat Dranaise,Membangun rumah  (sekali-kali),sekali-kali Membuat anak Panah,Mencari Kayu Bakar .Pada sisi lain seperti beternak,Pekerjaan ternak babi ini  lebih banyak dilakukan perempuan  mulai  mencari makan, memberi makan hingga memelihara.Walaupun ada laki-laki yang melakukan, itupun  ketika ada pagar atau kandang babi rusak. Pembuatan kandang atau pagar dilakukan kaum laki-laki. Mengurusi babi kaum perempuan dan anak-anaklah yang melakukannya. Pekerjaan  memelihara babi umumnya  dilakukan oleh perempuan dan anak- anak remaja. Babi yang dipelihara  sebagian besar digunakan untuk membayar mas kawin, membayar anak sekolah,  dan  disembelih  pada saat-saat upacara keagamaan atau adat dan jarang sekali  sekali daging babi dikonsumsi oleh keluarga setiap hari. Selain itu ada yang beternak ayam, kelinci, sapi dan anjing yang baru diperkenalkan dalam waktu dua dasawarsa yang lalu. Pekerjaan mengurus ternak lebih banyak dilakukan oleh kaum  perempuan  dan anak-anak. Sedangkan keputusan  pengelolaan atas hasil usaha ternak  babi lebih banyak dikelola oleh Kaum lelaki. Sedangkan kaum perempuan hanya menyimpan hasil ternak babi .&lt;br /&gt;emanuel goo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilema Peran Ganda Perempuan Bekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Oleh Emanuel Goo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersisa segumpal keraguan di benak manusia modern  ketika&lt;br /&gt;menyaksikan kiprah perempuan di bidang-bidang pekerjaan produktif&lt;br /&gt;diluar rumah. Kendati semakin lumrah, namun pertanyaan tentang&lt;br /&gt;peran ke-ibu-an seorang perempuan di dalam rumah tangga masih&lt;br /&gt;senantiasa  digemakan. Seakan-akan perempuan tidak dinilai cukup&lt;br /&gt;sukses bila keberhasilan membangun  keluarga  tidak dibarengi&lt;br /&gt;kesuksesan mengelola  rumah tangga.  Berakar dari pembagian kerja&lt;br /&gt;secara seksual yang mulai aktif&lt;br /&gt;diberlakukan pascarevolusi industri, saat modernisasi  mulai&lt;br /&gt;menyebar bibit dan menyentuh segala aspek kehidupan sosial.&lt;br /&gt;Jejak-jejak pembagian kerja ini antara lain dapat ditelusuri lewat&lt;br /&gt;kajian  tentang Diferensiasi Struktural yang menjadi salah&lt;br /&gt;satu ciri modernisasi. Setiap fungsi yang bekerja dalam suatu&lt;br /&gt;hierarki struktural membutuhkan pembedaan tugas yang jelas. Upaya&lt;br /&gt;memodernkan diri sejadi-jadinya ini ternyata menuntut diferensiasi&lt;br /&gt;berlaku pula pada fungsi-fungsi gender.&lt;br /&gt;Diferensiasi ini didukung pula oleh keyakinan teoritisi&lt;br /&gt;Adaptasionis. Adaptasi manusia menghasilkan pertumbuhan ukuran&lt;br /&gt;otak   yang karenanya terjadi perkembangan tengkorak juga. Hal ini&lt;br /&gt;menimbulkan kesulitan melahirkan pada nenek moyang kita. Untuk&lt;br /&gt;mengkompensasi kesulitan ini, maka manusia cenderung melahirkan&lt;br /&gt;lebih awal daripada makhluk lainnya, akibatnya anak manusia lahir&lt;br /&gt;cenderung tidak ”sedewasa” binatang. Sementara anak binatang telah&lt;br /&gt;mampu hidup mandiri dalam hitungan bulan, anak manusia tetap&lt;br /&gt;tergantung pada orang tuanya tetap tergantung pada orang tuanya&lt;br /&gt;belasan tahun hingga masa remaja (teenage years) (Fisher, 1992).&lt;br /&gt;Karena perempuan melahirkan dan menyusui anak, lantas secara&lt;br /&gt;simplistik dijadikan kandidat tunggal untuk mengasuh anak dan&lt;br /&gt;menjadi semakin dibebani urusan pengasuhan keluarga. Tidak hanya&lt;br /&gt;mengurus anak-anak, tapi juga suami dan bahkan kadang orang tua.&lt;br /&gt;Hal&lt;br /&gt;inilah yang dianggap cikal bakal pembagian kerja secara seksual oleh&lt;br /&gt;teoritisi Adaptasionis. Terlebih karena dalam perkembangan&lt;br /&gt;selanjutnya, perempuan melakukan tugas-tugas yang ”dekat rumah”,&lt;br /&gt;sementara kaum laki-laki pergi berburu atau mencari nafkah lain&lt;br /&gt;(Buss, 1996). Skema pembagian kerja ini kemudian dilegitimasi oleh&lt;br /&gt;agama dan adat istiadat atas nama kodrat. Masyarakat cenderung&lt;br /&gt;beranggapan bahwa pembedaan atau pembagian kerja secara seksual&lt;br /&gt;adalah sesuatu yang alamiah. Stereotipe yang dianggap kodrat telah&lt;br /&gt;melahirkan ketidakadilan gender bagi perempuan dan laki-laki.&lt;br /&gt;Akibatnya, lahir pembagian kerja secara seksual. Laki-laki mendapat&lt;br /&gt;porsi yang lebih menguntungkan daripada perempuan (Arief&lt;br /&gt;Budiman,1981).&lt;br /&gt;Namun banyak perempuan tidak menganggap begitu, bahkan menerima&lt;br /&gt;peran yang diberikan kepada mereka sebagai sesuatu yang mulia dan&lt;br /&gt;harus dijunjung tinggi. Bahkan Arief Budiman juga mempertanyakan,&lt;br /&gt;mengapa perempuan sebagai kaum yang dirugikan tidak sadar akan&lt;br /&gt;keadaannya? Lihatlah keadaan perempuan: perempuan jadi tergantung&lt;br /&gt;kepada laki-laki secara ekonomis, karena pekerjaan yang dilakukan di&lt;br /&gt;rumah tangga tidak menghasilkan uang  (money ). Ditambah lagi,&lt;br /&gt;perempuan seakan-akan dipenjarakan di suatu dunia yang tidak&lt;br /&gt;merangsang perkembangan kepribadiannya. Mereka mengerjakan&lt;br /&gt;pekerjaan&lt;br /&gt;yang itu-itu juga setiap hari, diulang jutaan kali. Teman-temannya&lt;br /&gt;pun serba terbatas.&lt;br /&gt;Akhirnya Arief Budiman pun mengatakan bahwa persoalan pembagian&lt;br /&gt;kerja secara seksual merupakan persoalan yang sangat penting karena&lt;br /&gt;merupakan sebuah persoalan eksploitasi separuh dari umat manusia&lt;br /&gt;oleh separuh  manusian lainnya.&lt;br /&gt;Secara sederhana pembagian ini menempatkan kaum laki-laki&lt;br /&gt;berperan&lt;br /&gt;pada permasalahan publik sementara perempuan lebih berkutat pada&lt;br /&gt;masalah domestik sebagai ibu rumah tangga. Mulailah berlangsung&lt;br /&gt;normalisasi pembagian kerja ini selama berabad-abad hingga kini.&lt;br /&gt;Pembagian kerja secara seksual ini kemudian terdistribusikan ke&lt;br /&gt;negara-negara Asia Afrika dengan kolonialisme sebagai kendaraan&lt;br /&gt;awalnya. Berakhirnya kolonialisme pasca-PD II dan merebaknya&lt;br /&gt;proyek&lt;br /&gt;modernisasi negara-negara baru merdeka ternyata justru lahan subur&lt;br /&gt;baru bagi tumbuh kembangnya konsep ini.&lt;br /&gt;Tentu saja, seperti berbagai ambisi modernitas lainnya, konsep ini&lt;br /&gt;awalnya seolah-olah bebas nilai. Pembagian kerja secara seksual&lt;br /&gt;bermuara pada tujuan efektivitas dan efisiensi. Sehingga setiap&lt;br /&gt;tindakan sosial dapat terukur dengan parameter-parameter yang&lt;br /&gt;jelas.&lt;br /&gt;Walau setelah konsep ini bekerja tenyata mengerucut juga pada&lt;br /&gt;pembentukan sistem nilai baru. Modernisasi yang menempatkan&lt;br /&gt;kapital&lt;br /&gt;sebagai panglima akhirnya meletakkan sektor publik sebagai fungsi&lt;br /&gt;yang bernilai lebih dibanding sektor domestik, karena sektor publik&lt;br /&gt;memang lebih produktif menghasilkan kapital. Maka terjadilah&lt;br /&gt;subordinasi atas perempuan.&lt;br /&gt;Anehnya di Indonesia, subordinasi ini malah diadopsi dalam sistem&lt;br /&gt;hukumnya. Contoh ketidakadilan gender dalam hukum adalah: 31 (ayat&lt;br /&gt;3) UU No 1/1974 tentang Perkawinan menentukan: suami adalah&lt;br /&gt;kepala&lt;br /&gt;keluarga dan istri ibu rumah tangga. Pasal 31 (ay 1, dan 2) antara&lt;br /&gt;lain menyebutkan: suami wajib memberikan segala sesuatu keperluan&lt;br /&gt;hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya dan istri&lt;br /&gt;berkewajiban mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Ketentuan ini&lt;br /&gt;jelas menempatkan istri dalam posisi subordinat terhadap suami dan&lt;br /&gt;masih senada dengan ketentuan dalam hukum perdata. Misalnya pada&lt;br /&gt;Pasal 105, suami mengurus harta kekayaan istri; Pasal 106, istri&lt;br /&gt;harus tunduk patuh pada suami; Pasal 124, istri tidak berhak&lt;br /&gt;bertindak atas hartanya.&lt;br /&gt;Ketimpangan nilai atas fungsi ini menyebabkan kaum perempuan mulai&lt;br /&gt;menuntut kesetaraan untuk aktif di sektor-sektor publik yang&lt;br /&gt;produktif, untuk menjadi perempuan bekerja. Ide-ide kesetaraan ini&lt;br /&gt;dikemukakan pertama kali oleh Mary Wollstonecraft yang dituangkan&lt;br /&gt;lewat bukunya A Vindication of the Rights of Woman yang&lt;br /&gt;diterbitkan di Ingris tahun 1792. Mary Wollstonecraft menentang&lt;br /&gt;ide yang&lt;br /&gt;menempatkan perempuan eksis hanya untuk menyenangkan kaum laki&lt;br /&gt;-laki dan mengusulkan agar perempuan menerima kesempatan yang&lt;br /&gt;sama dengan laki-laki dalam pendidikan, pekerjaan dan politik. Sebuah batu&lt;br /&gt;pijakan dalam perkembangan gerakan perempuan modern ditandai lewat&lt;br /&gt;buku Simone de Beauvoir Le Deuxième Sexe (1949; The Second Sex),&lt;br /&gt;yang menjadi best-seller di seluruh dunia hingga kini namun yang&lt;br /&gt;jelas menumbuhkan kesadaran feminis dengan ide bahwa ”liberation for&lt;br /&gt;women was liberation for men too”. Salah satu referensi terpenting&lt;br /&gt;juga adalah The Feminine Mystique, diterbitkan 1963, karya Betty&lt;br /&gt;Friedan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friedan menyerang domestisitas yang mematikan-pengkondisian&lt;br /&gt;perempuan untuk menerima peran pasif dan tergantung dengan dominasi&lt;br /&gt;laki-laki.&lt;br /&gt;Derasnya tuntutan itu berhasil membobol dinding beton pembagian&lt;br /&gt;kerja tersebut. Munculnya kesadaran akan kesetaraan ini sempat&lt;br /&gt;melahirkan fenomena menarik lahirnya gerakan-gerakan perempuan di&lt;br /&gt;negara-negara berkembang. Kini kita bisa menyaksikan bagaimana&lt;br /&gt;kiprah perempuan seperti tak terbendung lagi. Apakah hal ini berarti&lt;br /&gt;semua permasalahan tuntas?&lt;br /&gt;Ternyata tidak semudah itu. Kebebasan untuk berkarier, berpolitik  di berbagai&lt;br /&gt;sektor itu ternyata masih menyisakan warisan paradigma lama yang&lt;br /&gt;menempatkan perempuan sebagai penguasa sekaligus penanggung jawab&lt;br /&gt;urusan domestik. Lahirlah jargon baru tentang peran ganda perempuan&lt;br /&gt;sebagai career woman sekaligus house wive. Peran ganda tersebut&lt;br /&gt;lahir untuk menjawab pertanyaan siapa yang lantas harus bertanggung&lt;br /&gt;jawab pada masalah domestik rumah tangga jika perempuan pun bekerja&lt;br /&gt;di sektor publik.&lt;br /&gt;Alih-alih menangguk kebebasan, ternyata perempuan bekerja malah&lt;br /&gt;tertimpa beban tanggung jawab yang lebih berat lagi. Sementara di&lt;br /&gt;sisi lain, keterlibatan perempuan di sektor publik tidak lantas&lt;br /&gt;membuat kaum laki-laki otomatis juga terlibat dalam urusan domestik&lt;br /&gt;rumah tangga. Nilai kesuksesan bagi seorang perempuan pada akhirnya&lt;br /&gt;harus selalu diricek ulang pada kedua sisi peran ganda tersebut.&lt;br /&gt;Secara psikologis, perempuan juga dituntut memiliki kepribadian yang&lt;br /&gt;siap terbelah ketika ia memutuskan memasuki dunia kerja di sektor&lt;br /&gt;publik. Betapa berat ternyata beban perempuan untuk menjadi modern.Beralih sejenak dari diskursus tentang peran perempuan&lt;br /&gt;modern untuk melakukan retrospeksi terhadap realitas kesejarahan&lt;br /&gt;bangsa kita. Ternyata bagi bangsa kita secara umum, perempuan&lt;br /&gt;bekerja bukanlah suatu fenomena baru yang layak menjadi dilematis&lt;br /&gt;begitu rupa. Sejarah dan tradisi beberapa suku di Indonesia ternyata&lt;br /&gt;telah mencatatkan persenyawaan kedua peran tersebut. Laki-laki dan&lt;br /&gt;perempuan dalam rumah tangga sama-sama memiliki peran dan tanggung&lt;br /&gt;jawab domestik yang setara.&lt;br /&gt;Di berbagai daerah secara tradisional, ternyata telah dikenal&lt;br /&gt;aktivitas perempuan di sektor publik yang juga produktif. Mereka&lt;br /&gt;tidak menjalankan sebuah fungsi yang dibedakan sebagai career woman&lt;br /&gt;atau house wive secara terpisah. Mereka terlibat dalam proses&lt;br /&gt;produksi di sawah, di pasar, kerja kasar bahkan berburu maupun&lt;br /&gt;berbagai pekerjaan lainnya, dalam rangka menjalankan peran&lt;br /&gt;domestiknya juga. Sementara laki-laki pun tak kurang dituntutnya&lt;br /&gt;untuk bertanggung jawab juga pada sektor domestik. Misalnya mereka&lt;br /&gt;dituntut memberi pendidikan bagi anak-anaknya dan peran-peran&lt;br /&gt;lainnya.&lt;br /&gt;Walaupun tentu saja ada juga suku bangsa  yang kerjanya&lt;br /&gt;menindas hak-hak perempuan. Diskursus ini memang belum dapat&lt;br /&gt;dikatakan menemukan formulanya yang paling sesuai. Tapi sesungguhnya&lt;br /&gt;kesetaraan dalam rumah tangga adalah keniscayaan. Karena bukankah&lt;br /&gt;berumah tangga adalah sebuah komitmen untuk menjalani kehidupan&lt;br /&gt;bersama-sama. Bukan melimpahkan beban pada salah satu pihak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt; Disarikan dari berbagai sumber&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-3699274141103345963?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/3699274141103345963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=3699274141103345963' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/3699274141103345963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/3699274141103345963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/membedah-pembagian-kerja-antara.html' title='Membedah Pembagian Kerja antara Perempuan dan Laki-laki  Etnis  Mee  Bersama Ny. Theresia Dogomo ,S.Sos'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-7507602584773035425</id><published>2007-12-30T16:46:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T16:48:06.081-08:00</updated><title type='text'>pemekaran kabupaten Dogiyai susul IJT</title><content type='html'>sejak Tanggal  6 Desember lalu  Kabupaten Dogiyai sebagai salah satu Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Nabire ,melalui rapat paripurna DRP RI di Jakarta.Maka pada Selasa (11/12) masyarakat Kabupaten Nabire menyambut kehadiran tim Pemekaran Kabupaten Dogiyai yang di pimpin lansung oleh Bupati Nabire Drs Anselmus.Petrus.Youw di Bandara Udara Nabir dengan tarian adat . Kepada  wartawan Bupati Nabire Drs A.P.Youw mengatakan, Kabupaten Dogiyai merupakan cucu kandung dari ibu kota Kabupaten Nabire ,setelah tahun 1996 lalu pemekaran Kabupaten Paniai dan Puncak Jaya yang merupakan anak kandung dari kabupaten Nabire.Dengan hadirnya cucu Kabupaten Dogiyai di harapkan mampu menampung Sumber Daya Manusia (SDM) orang Papua ,dengan demikian orang Papua akan menjadi tuan di negeri sendiri.“SDM telah kita cetak dan tidak mungkin satu Kabupaten mampu menampun semua SDM orang Papua yang ada,sehingga saya pikir harus ada pemekaran lagi untuk menampung semua “.Untuk itu kepada Bupati atau pimpinan daerah yang ada nanti di Kabupaten Dogiyai,tinggal menggunakan atau memakai SDM yang telah ada ,dengan harapan tidak ada perbedaan terhadap semua SDM yang ada.Sebagai Bupati Kabupaten Nabire  ,”saya telah menyiapkan SDM dan kini Kabupaten telah juga di siapkan,tinggal kita siapkan atau aktifkan kembali Provinsi Papua Tengah”.Sementara terkait karakteker Kabupaten Dogiyai,kata A.P.Youw, hingga kini sebagai Kabupaten induk masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari Menteri Dalam Negeri(Mendagri) terkait karakteker yang di maksud.Dan untuk karakteker Bupati Kabupaten Dogiyai , di harapkan dalam waktu dekat setelah ada petunjuk dan Bupati Kabupaten induk mengusulkan dua nama kepada Presiden untuk di tetapkan sebagai Karateker Bupati Dogiyai.Dan Kabupaten Dogiyai yang kini telah resmi menjadi Kabupaten ,maka Kabupaten Dogiyai merupakan cucu kandung dari Kabupaten Nabire yang di harapkan mampu menampung SDM semua anak –anak di daerah ini.Soal letak ibu kota Kabupaten Dogiyai kelak nanti  ,menurut Bupati Youw ,semuanya tergantung masyarakat Mapia dan Kamuu,sehingga semuanya di kembalikan kepada keinginan rakyat setempat. lebih jauh dikatakan  selama kurung waktu 2 tahun  lama kita bekerja untuk merebut Kabupaten Dogiyai,maka sudah tentuh kita korbankan waktu ,tenaga dan uang.Dalam perjuangan merebut Kabupaten Dogiyai kepada Pemerintah Pusat di Jakarta,selama dua tahun itu,ada sejumlah isu yang berkembang di masyarakat bahwa,belum saatnya Kabupaten Dogiyai di Mekarkan atau di restui pemerintah pusat.Dan Kahadiran Kabupaten Dogiyai yang telah di restui pemerintah pusat melalui sidang DPR pada 6 Desember lalu ,merupakan hadiah Natal Tahun 2007 bagi masyarakat Kabupaten Nabire dan Dogiyai.“Setelah Kabupaten Dogiyai di restui Pemerintah pusat sebagai hadiah Natal ,kata A.P Youw, kini saatnya lagi untuk kita masyarakat Papua tengah (PT) kembali dan menanyakan pengaktifan kembali Provinsi Papua “.Pemerintah pusat perna mendirikan Privinsi Papua Tengah,namun tiba-tiba anak itu hilang,”sehingga kini kita kembali tanyakan dan cari hilangnya anak itu dan kini anak itu berada di mana,tegas Youw yang di sambut tepuk tangan dari masyarakat.Selaku orang tua yang perna melahirkan anak itu(Papua Tengah red-) ,kini sedang mencari keberadaan anaknya yang perna di lahirkan itu,dengan demikian perlu adanya dukungan masyarakat.Dan kehadiran Provinsi Papua Tengah yang yang kini sedang di kejar untuk di aktifkan kembali oleh masyarakat Papua Tengah,bukan untuk kepentingan siap-siapa atau oknum tertentu,tetapi untuk kepentingan rakyat.Dan perjuangan selama kurung waktu dua tahun pemekarang Kabupaten Dogiyai telah berakhir dengan hasil yang mengembirakan,sehingga Pemerintah pusat katakan Dogiyai merupakan hadiah Natal bagi masyarakat Nabire dan Dogiyai.Pemekaran kabupaten Dogiyai  akan membuka peluang bagi orang Papua   terutama masyarakat Kamu Mapia yang selama ini merasa dilupakan oleh pemerintah kabupaten Nabire dan terutama oleh pemerintah Indonesia, dengan tujuan memperpendek rentang kendali  jangkauan pemerintah kabupaten Nabire kepada masyarakat yang  bermukim dipelosok pedalaman dan hidupnya terpuruk dalam keterbelakangan. Selain  membuka peluang Dogiyia juga akan menjawab ketertinggalan pembangunan  di wilayah II pembangunan di daerah tersebut. “ Untuk itulah   saya berjuang  dan berupaya memekarkan kabupaten Dogiyai “  Pembangunan selama pemerintahannya ( A.P.Youw)  kedua wilayah tersebut merasa dilupakan. Sebenarnya bukan dilipakan akan tetapi hanya karena medan yang sulit dijangjau oleh pemerintah.  Karenanya ujar bupati pemerintah telah berupaya memperpendek rentang kendali pemerintah dengan memekarkan kampung-kampung disusul dengan pemekaran  distrik dan serta untuk membangunan sekian kampung dan Distrik didaerah itu pemerintah kabupaten Nabire telah  berusaha memekarkan kabupaten Dogiyai.Dia mengatakan, dalam alur perjuangan pembentukan  daerah otonomi ( kabupaten) baru  sejak  2005 dirinya dihadapkan pada berbagai persoalan yang berujung pada penolakkan. “Namun saya eksis pada pemekaaran sebab jika tidak dimekarkan kabupaten generasi muda  tidak  akan mendapatkan peluang  guna bersaing dengan daerah-daerah lain di Indonesia umumnya dan khususnya di Papua,”tuturnya. Karena itu  tandasnya, semua komponen yang telah bertolak belakang dengan pemekaran Dogiyai sebaiknya merapatkan barisan untuk  mempersiapkan diri guna membangun kabupaten baru yang akan di operasionalkan  pada tahun 2008 mendatang.  Seraya menambahkan,  dengan penambahan pemekaran Dogiyai  dan Puncak di Puncak Jaya maka kini Nabire telah memiliki cucuk dari kabupaten induk. Dengan demikian  kabupaten Nabire siap menjadi Provinsi Papua Tengah. Dambaan masyarakat wilayah pedalaman Kabupaten Nabire, khususnya masyarakat Lembah Kamu dan Mapia agar segera adanya Pemekaran Kabupaten Dogiyai kini telah menjadi kenyataan melalui sidang DPR RI di Jakarta pada Tanggal 6 Desember 2007. Untuk itu, pemerintah Kabupaten Nabire (kabupaten induk) bersama  kalangan intelek bersama berbagai komponen masyarakat KamuU dan Mapia harus bergandengan tangan guna menata Kabupaten Dogiyai.  “Apa yang diharapkan berbagai komponen masyarakat yakni pemekaran Kabupaten Dogiyai kini telah menjadi kenyataan. Dengan demikian,  tidak ada kata lain selain kita bergandengan tangan guna menjadikan Dogiyai bagaikan perempuan cantik. Yang menjadi pertanyaannya adalah Can We Maintenan This Country Like The Dogiyai Beauty Girls ? (Mampukah Kita Menata Dogiyai Bagaikan Perempuan cantik?),” Demikian seperti yang diungkapkan secara spontanitas salah seorang pejuang pemekaran Kabupaten Dogiyai, Apapa Clara Gobay, ketika media ini meminta komentarnya soal pemekaran Dogiyai Senin (11/12) kemarin di Nabire.Dikatakan Apapa Clara Gobai yang juga adalah Pimpinan Partai PAN di Kabupaten Nabire ini, komponen-komponen masyarakat yang ada perlu bersatu guna menata Kabupaten Dogiyai sejak awal proses.Apalagi, Kabupaten Dogiyai merupakan salah satu daerah yang sulit untuk dijangkau, sehingga   dengan adanya pemekaran kabupaten ini tentunya memperpendek jangkauan kerja pemerintah guna membuka isolasi sekalgus mendekatkan pembangunan kepada masyarakat. “Untuk itu, kita harus mendukung keberadaan kabupaten Dogiyai agar selanjutnya dapat mengejar ketertinggalan pembangunan. Ingat, kehadiran kabupaten Dogiyai jangan dijadiukan sebagai sorotan publik.,”paparnya sembari mengatakan, perjuangan pemekara kabupaten Dogiyai bukan untuk kepentingan pemerintah kabupaten dan tim sukses, akan tetapi perjuangan pemekaran kabupaten Dogiyai demi kepentingan pembangunan dan masyarakat. Emanuel goo nabire KOMISI E DRP PROPINSI PAPUA BUKA PERLOMBAAN, SAMBUT HARI NATAL  KARANG TARARUNA ” LUKAS PATTI GOBAY ”Menyambut perayaan Natal 2007 Karang Taruna “Patti Gobay” menggelar sejumlah kegiatan diantaranya; Volly Ball Putra/putri, Sepak Takrau, dan pertandingan lainnya. Senin 19 Nov. 2007 dihalaman SD Neg. II Karang Tumaritis telah resmi dibuka kegiatan olah raga yang diselenggarakan oleh Karang Taruna “Lukas Patti Gobay” yang melibatkan sembilan Keluarahan di Distrik Nabire Kota. Kegiatan tersebut resmi dibuka oleh Ibu Yosephina Pigai, S.Sos. Sekretaris Komisi E DPR Provinsi Papua. Dalam arahannya ibu Yosephina mengawali dengan maksud dan tujuan kedatangannya, yaitu kehadirannya merupakan rasa kepedulian terhadap sumber daya Pemuda dan pemudi, karena Pemuda/i sebagi generasa penerus gereja dan bangsa perlu dibina dan dibekali secara serius oleh Gereja dan bangsa, karena kekuatan suatu bangsa ada di pundak generasi muda. Sehingga kehadiran wadah-wada seperti; karang taruna ini harus difungsikan/manfaatkan sebagai tempat pembinaan yang solid. Ibu yang murah senyum dengan siapa saja ini, dirinya juga menambahkan bahwa hendaknya kegitan tersebut juga dapat menumbuh kembangkan minat, bakat, dan talenta yang ada dalam diri pemuda dan pemudi. Dan kegiatan ini diharapkan dapat  menjalin dan mepererat tali persaudaraan di antara pemuda/I di sembilan Kelurahan yang ada di distrik Nabire Kota, dan ia mengharapkan kegiatan ini harus berjalan dengan aman, tertib dan terkendali hingga kegiatan berakhir. Ia pun menerangkan akan makna natal kepada kita semua khususnya kaum muda-mudi agar betul-betul dapat memaknai nilai-nilai suci Kelahiran Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia, dan menjadikan nilai-nilai itu terpatri dalam kehidupan nyata. Pertemuan pertama yang dilakukan pada hari minggu yang dihadiri oleh beberapa lurah, kepala kampung, dan sejumlah anggota Karang Taruna, disela-sela itu sebagai seorang Ibu, menyerahkan bantuan berupa 3 set Bola Volly, 2 set Sepak Takrau, dan 8 buah tropi serta kaos dan topi untuk Panitia Natal, Kepala kampung dan Kelurahan masing-masing 25 buah.Kepala Kelurahan karang Tumaritis mewakili kelurahan-kelurahan yang ada mengucapkan terima kasi atas kedatang ibu Yosephina Pigay, yang dapat meluangkan waktu bersama kami dalam mengawali semua kegiatan panitia Natal. Pada kesempatan itu juga disampaikan oleh ketua Karang Taruna “Lukas Patti Gobay” Yance Rumpumbo, S.Sos. Merasa bangga karena ada orang jauh yang mau peduli tentang kita di kelurahan Karang Tumaritis Nabire dirinya selaku ketua karang taruna tidak dapat membelas apa-apa tetapi Tuhanlah yang akan membalas budi baik ibu. Dalam waktu yang bersamaan juga di katakana oleh Ketua Panitia Natal Karang Taruna yang dalam hal ini sebagai penyelenggara menyampaikan terima kasih yang sedalam – dalamnya atas dukungan moril; juga menambah semangat pemuda dan pemudi di kelurahan karang tumaritis karena Ibu langsung mengadiri kegiatan kami. meskipun harus menghirup abu jalanan dan berjemur panas NabireKemudian dilanjutkan dengan pawai kompoi keliling kota dalam kegitan tersebut turut hadir juga beberapa Kepala Kelurahan dan Kepala Kampung di wilayah Distrik Nabire pawai tersebut star dari Depan kantor Kelurahan Karang Tumaritis, menuju pantai MAF, menuju Kelurahan Siriwini, dan kembali ke Oyehe masuk jalan merdeka dan masuk di jalan Drs. A. Gobay hingga finis di depan Kantor Kelurahan Karang Tumaritis.Wellcome  dogiyai,Welcome PenderitaanEmanuel paulus G Goo "welcome Dogiyai". Begitulah bunyi  berita utama  yang dilansir  media ini kemarin pagi  . Semua masyarakat yang  mendukung dan juga selama ini turut berjuang  bernapas lega , sebab v selama ini menjadi dambaan dan harapan  dalam waktu dekat ini akan terwujud .  nbmun pada kelompok yang kontra dengan  pemekaran dogiyai ini akan mengelus dada dan akan mengalah .           Sejak  rencana  pengesahan di lansir beberapa hari lalu  ,   di mana dua tiga orang berkumpul atas nama orang dogiyai, maka yang pasti tema pembicaraan mereka adalah soal kabuapten dogiyai sebagai kabupaten baru. Tema seperti ini berserakan di semua tempat, di kebun , di gang kampung, di kuburan, diwarung  bahkan pada  acacara duka  sekalipun. Maklum, hari-hari ini merupakan hari paling indah dan paling bersejarah dan mungkin paling romantis buat orang dogiyai , terutama setelah pemerintah melalui DPR RImemberikan kedaulatan sekaligus kekuatan yuridis kepada dogiyai untuk mengurusi dan mengatur sendiri daerahnya. Karena itu angka o6/12/07  atau angka 06  (tanggal) per 12 (bulan desember ) per 07 (tahun) merupakan angka keramat yang ditulis dalam album sejarah bangsa dan lebih terang lagi ditulis dalam album sejarah Kabupaten dogiyai . Karena itu, paitua Gagabi  dan maituanya  Duaida Maga yang biasanya duduk santai di halaman kampung  ugapuga pada setiap menjelang senja sambil menonton anak-anak mereka yang berlari kecil melintas gang kampung, menerobos sepi, ia menorehkan jarinya di tanah menghitung harga kopi,babi  dan kacang , kini asyik menorehkan jarinya menghitung siapa menjadi apa (siapa menjadi bupati, siapa menjadi wakil bupati, siapa menjadi kepala dinas anu, siapa menjadi kepala dinas, ano, siapa menjadi kepala dinas ane), sampai-sampai jari telunjuknya telanjur masuk ke lubang celana  Gagabi  tetangganya yang juga asyik mengikuti pergerakan jari   maitua  Duaida  maga Nah, jika eforia dan prosesi mencintai tanah air orang dogiayai   didorong oleh ambisi siapa menjadi apa, bukan siapa melakukan apa, untuk siapa, maka deklarasi Selamat Datang dogiyai  dengan selamat datang kesedihan. Sebab, dogiyai  hanya sebuah panggung pertarungan para pendamba jabatan dan para perindu kekuasaan. Dan biasanya pertarungan seperti itu selalu membangkrutkan rakyat, baik secara ekonomis maupun secara psikologis. Dengan kata lain, kalau kasus pemekaran dogiayai dan daerah otonom baru lainnya  tak ada yang tipikal, tak ada sesuatu yang distingtif dengan pemekaran kabupaten di daerah lain, maka pengalaman pembangunan, pengalaman korupsi dan pengalaman penderitaan rakyat kurang lebih sama. Dengan demikian,dogiyai  hanya dataran baru untuk mengkavling jabatan buat kalangan atas dan terjadi pemerataan kemelaratan di kalangan bawah. Jika itu yang terjadi, apa perlunya pemekaran? Bukankah pemekaran itu sekadar mengutip istilah orang seberang hanya membuat rakyat menderita berlipat ganda.Kita  bisa bayangkan, jauh sebelum dikukuhkan sebagai kabupaten, persiapan perpecahan sosial meleleh di mana-mana, proses segmentasi masyarakat kian merona di mana-mana, dan rivalitas suku mulai bersemi di mana-mana, mengerutkan hubungan berdasarkan afiliasi tokoh tertentu yang dianggap representatif untuk menjadi siapa di Dogiyai . Istilah  aki ibo ani ibo (kamu adalah kamu) atau dalam kategori sosilogis outgroup dan ingroup berserakan pada setiap kampung. Kini orang di dogiyai  tidak lagi sekadar menikmati kopi pahit dan ubi bakar membunuh keletihan di senja hari, tetapi menikmati pahitnya perpecahan karena perangai politik yang lebih bersifat praharadan seakan berusaha membubarkan kesunyian humanistik dan lingkungan parokial pedesaan.Dalam mitologi orang dogiyai , gaya politik yang mementingkan jabatan dan kekuasaan dapat diparalelkan perilaku politik yang bermental kejar jabatan  terkenal karena badannya bagai raksasa tambun, berbulu , legam sekujur tubuh dan bermukim di lembah, perbukitan  untuk mengintai ke seluruh mata angin, dan kemudian memangsai semua makhluk, rakus dan selalu berkata bangkus, yang berarti "berikan semua itu kepadaku". Aransemen politik aweta ko enatanitada  adalah mental cargo keinginan untuk mendatangkan barang yang berlimpah.Jika pemimpin berperilaku  bermental cargo, maka tidaklah cukup sayur-sayuran , kacang tanah, kentang  dan kopi orang lembah kamu , mapia   untuk menghidupinya. Dan jadilah dogiyai  sebagai sumber eksploitasi dan keadaannya semakin memperlihatkan terlalu miskin hingga menggapai tongkat kayu untuk membantu membangunkannya dari kemiskinan sangat sulit. Jika demikian, tidak ada kegembiraan, tak ada bulan merona atas datangnya Kabupaten dogiyai , selain pemerataan kemiskinan, pemerataan perpecahan, pemerataan jabatan. Inilah pasir-pasir yang membangun tugu kesedihan atas nama kabupaten dogiyai  itu.Ia (dogiayi ) mungkin saja tampil memelas karena paduan keindahan alaminya dan ukiran rakyat pada kulit bumi. Meski terkadang keindahan justeru menghadirkan kesedihan. Matahari petang menggoreskan warna kuning di ubun gunung-gemunung, aroma bunga kopi yang membuka labirin kehidupan petani, petak-petak kebun yang menempel pada dinding tebing bagai lukisan realistik tentang koneksi kosmos dengan dunia sini. Terkadang ada orang di ujung kebun  membajak dengan berkali-kali memutar , ada juga burung terbang menjemput senja, sekaligus menutup album lukisan di hari itu. Dan sebentar lagi bulan setengah bulat mengintip dari pepohonan cengkeh seolah memperlihatkan mujizat alam yang makmur. Tetapi semua tidak cukup buat  para penjabat bupati dan jajarannya  yang selalu berkata bangkus (berikan semua itu kepadaku). Tetapi, dogiyai  harus bangkit merenda hari depan dengan kekuatan kesadaran historis yang begitu lama diposisikan sebagai inverior, lantas meratapi nasib di balik tembok politik yang dibangun nabire . Saatnya dogiyai mengolah ratapan menjadi  ambisi sehingga dapat mengubah keadaan dan keadaan harus diubah.* Penulis adalah koresponden suara perepuan papua&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-7507602584773035425?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/7507602584773035425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=7507602584773035425' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/7507602584773035425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/7507602584773035425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/pemekaran-kabupaten-dogiyai-susul-ijt.html' title='pemekaran kabupaten Dogiyai susul IJT'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-863805063437616298.post-1822263178514968209</id><published>2007-12-30T15:51:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T15:55:19.385-08:00</updated><title type='text'>natal budaya Papua</title><content type='html'>NABIRE –  Sejak 4 tahun lalu    setiap kali  Perayaan  Paskah dan Natal  bagi umat Paroki  Kristus Raja  Malompo  Nabire Keuskupan Timika  mrerayakan  natal dan paska  ala budaya Papua .  Dalam  liturgi perayaaan Mula awal  hingga  akhir  ibadah  dilakukan  dalam nuansa budaya   Papua. Perayaan  Natal  pada tanggal  27  desember kemarin, umat paroki  Kristus Raja  merayakannya  dalam kekhasan Papua  ,sebagian besar   umat yang hadir  mengikuti perayaan nnatal Papua  mengenakan  busana   tradisional masing- masing , baik etnis Moni, Lani, Nduga, Damal , Kamoro,  Mee dengan  diringi lagu- lagu tradisonal  dari setiap etnis . Perayaan Natal Budaya Papua  yang dihadiri ribuan umat itu dirauyakan cukup meriah    sebab  serasa yesus benar- benar hadir ditengah –tengah keragaman budaya orang  Papua, hal itu nampak  mulai dari hingga akhir  liturgy ibadah  dilakukan dalam  bahasa , entah doa , maupun lagu   dinyanyikan dalam  berbagai bahasa daerah Papua . Hal itu terasa   Yesus yang lahir  pada  2000 tahun silam itu  hadir dan lahir kembali   ditengah-tengah orang Papua , maka  sebagian  umat tahan mengucurkan air mata .  Perayaan  natal budaya Papua di pimpin Pastor Natho Gobay,Pr   dengan Tema sentral    Hidup damai,bijaksana, adil dan beribadah . “ Ibadah seperti ini mesti  dilakukan semua gereja  dsan dilakukan  sesuai budaya  umat  sehingga natal atau perayaan  apapun  benar- benar   terserap di dalam umat  dan hadirkan yesus  lewat budaya setempat  . Tata ibadah mesti dikemas  menurut  lokalitas budaya  Masyarakat  yang nantinya akan  menjadi bahan inspirasi, permenungan  yang mendalam bagi umat  sehingga Yesus  benar-benar menyatu dalam umat. Tak semestinya   tidak harus mengikuti  tata liturgi baku yang ada, dan itu kadang monoton yang acapkali  menjenuhkan  umat  “ kata  Paskalis Tebay  karena merasa terharu  kemarin ( 27/12) disaat menghadiri  ibadah natal Budaya  Papua . Menurut Dalam    homili Pater  Natoo Gobay, Pr  yang menggunakan    bahasa  Mee salah satu etnis di Pedalaman Papua  menandaskan  untuk   membangun, mempertahankan jati diri  budaya dan manusia papua dari perubahan  zaman  dewasa ini yang sedang menguncang sendi-sendi kehidupan manusia ,  mulai  kembali kepada basis . Mulai  perbaiki  dari keluarga sebagai basis, dasar  pijakan  untuk mencapai  tujuan hidup yang hakiki . Bila  kita merusaka keluarga kita sendiri,keluarga orang lain lewat berbagai pelanggaran  maka apapun  dambaan  kita akan gagal maka kembali berbenah  keluarga sebagai basis untuk menggapai berbagai dambaan . Kita   berjuang  dan bertahan hidup  dengan memuji dan memuliakan Allah saat ini , tapi  sepulang gereja  kita ikut terjerumus dalam berbagai   judi, togel , dan lainnya . Apakah itu budaya orang Papua . Terus kita melakukan pelanggaran-pelanggaran , maka kita cuci diri,evaluasi diri   sebab Tuhan siap membantu kita  memperbaiki hidup kita . Sabda telah menjadi manusia  dan sekarang ini ada ditengah –tengah . Sabda  sudah menjadi manusia dan hadir  bersama  kita saat ini . Begitu cinta  kepada kita Yesus dikirim oleh Allah Bapa . Sekarang ada ditengah-tengah kita   lewat sabda . Dia lahir  di dalam diri kita .Putra Allah hidup bersama kita . Hari ini  kita mengenakan busana kebesaran dari suku kita masing –masing  sebagai kebesaran budaya  kita , tetapi itu budaya jasmaniah. Hanya alat  saja  sebagai perhiasan  jasmaniah . Perhiasan ini kapan saja dapat hilang , tergeser  . Busana kita tidak penting tetapi lebih penting adalah  bagaimana mengubah pikiran  kita sesuai  kehendak Yesus. Bagaimana  membangun pikiran dalam  keluarga . Kalau demikian kita akan bangun Papua .  Bila  tidak dimulai dari sekarang  orang Papua akan kehilangan jati diri, harta benda  dan segala sumber daya alam di buana Papua . Orang Papua telah terkotak-kotakan .Papua kini telah hadir banyak kabupaten  tapi tidak  ada tempat pekerjaan, . Pemekaran  adalah tempat titik penghabisan  budaya , orang juga sumberdaya alam Papua . Pemekarab  membuka lapangan kerja  bagi orang lain bukan orang . malahan dengan pemekaran  membangun jeratan sendiri untuk  masuk dalam kehancuran manusia, buadaya dan sumber daya alam Papua . Pada segi lain  perkembangan  dunia berjalan terus  lalu  mau mundur. Mau tak mau . suka tidak suka  kita harus   menjadi  tuan  di negeri sendiri  bukan termarginalkan seperti yang dewasa ini  terjadi . Budaya  manusia Papua mau maju , manusia Papua sendirilah yang harus maju menjadi tuan di negeri sendiri . Dalam keluarga  bukan  lanjut Natho  saling menghancurkan lewat fitnahan, perselingkuhan dan lainnya  melainkan  mesti membangun  bersama   sebab salung mengfitnah, selingkuhan bukan budaya orang Papua . Untuk iti kita harus mandi diri secara moralitas, berserah diri, koreksi diri, evaluasi diri  dem,I membangun  kelaurga  yang kokoh sebagai dasar   membangun budaya ,dan jati diri orang Papua . Sudah empat tahun  kita lakukan  pesta natal  dan paskah budaya orang Papua  tetapi manusia  belum berubah dalam berpikir, bertutur kata, dan bertindak maka  saatnya  berubah diri, evaluasi diri baik mahasiswa ,  sarjana , penganggur ,tua muda ,ayah ,ibu    . Untuk mahasiswa  yang dimana saja sedang belajar, tingkatkan mutu moralitas diri, bukan ijzah sarjana yang dibutuhkan    melainkan  mutu  dan moralitas diri  juga bukan  satu-satunya  untuk menjadi PNS  tetapi  orang  dapat hidup   dengan  swadaya , dapat hidu p mandiri melalui  jerih payah kerja keras. Itulah budaya orang Papua yang sedang dilupakan .  Orang papua   memiliki etos kerja keras yang dapat menghidupi diri maupun keluarga  . Tuhan   menempatkan  orang Papua  di buana ini  dengan maksud dan tujuan yang mulia . Walaupun  sellama  ini manusia papua  dibunuh secara misterius dimana-mana  tetapi  roh  dan semangat mereka  tetap hidup. Sebagai manusia Papua  sesuai kehendak Allah . Untuk memegang  budaya Papua ,generasi  muda harus tingkatkan  mutu moralitas ,agar dapat  membangun   ekonomi, pendidikan , pendidikan , melawan ancaman penyakit HIV/AIDS yang kian melambung hingga jinni di nabire mencapai 511 ODHA . Usai perayaan natal Papua  dilanjutkan dengan menggelar berbagai tari-tarian  dari etnis masing-masing  di papua demi melengkapi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/863805063437616298-1822263178514968209?l=emanuelgoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/feeds/1822263178514968209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=863805063437616298&amp;postID=1822263178514968209' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/1822263178514968209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/863805063437616298/posts/default/1822263178514968209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://emanuelgoo.blogspot.com/2007/12/natal-budaya-papua.html' title='natal budaya Papua'/><author><name>manuel_news</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04163462333048458171</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
